Ketum PP Muhammadiyah Sebut Kemajemukan Telah Menjadikan Indonesia Kokoh

Ketum PP Muhammadiyah Sebut Kemajemukan Telah Menjadikan Indonesia Kokoh
Haedar Nashir. ( Foto: Antara )
Carlos KY Paath / WM Kamis, 22 Agustus 2019 | 20:53 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia merupakan bangsa dan negara yang majemuk dalam hal pemeluk agama, suku bangsa, ras, kedaerahan, golongan, bahkan lokasi geografis. Bhinneka Tunggal Ika, selain telah menjadi idiom dan alam pikiran kolektif dalam kehidupan keindonesiaan, juga menjadi identitas dan rujukan sikap berbangsa.

Demikian disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam keterangan seperti diterima SP, Kamis (22/8.2019). Menurut Haedar, Bhinneka Tunggal Ika menggambarkan mozaik kearifan dari realitas kemajemukan di tubuh bangsa Indonesia. Kemajemukan itu yang telah menjadikan Indonesia kokoh sebagai negara dan bangsa.

“Dengan spirit Bhinneka Tunggal Ika, bangsa Indonesia dapat melewati gesekan dan masalah SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) dari masa ke masa, meskipun melalui pengalaman dan proses yang penuh pergumulan dan pengorbanan dari semua komponen bangsa,” ungkap Haedar.

Oleh karena itu, Haedar menyatakan, setiap warga bangsa baik secara individu maupun kolektif, penting menyadari dan menghayati betul makna kemajemukan. Bahwa masyarakat Indonesia itu sungguh beragam dan dapat hidup dalam keragaman.

“Jangan pernah merasa hidup sendiri di Republik ini. Manakala hakikat kemajemukan tersebut diabaikan dan tidak dipahami secara seksama akan muncul pernyataan, ujaran, sikap, dan tindakan yang tidak semestinya yang akan menyinggung dan mengganggu suasana kemajemukan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, sehingga lahir masalah dan keresahan sosial,” ucap Haedar.

Haedar mengungkapkan, Indonesia perlu belajar dari sejarah mutakhir bubarnya Yugoslavia, karena pilar negaranya runtuh dan tidak mampu menyangga eksistensi kemajemukan bangsanya.

“Insyaallah Indonesia akan tetap kokoh menjadi negara-bangsa. Satu di antaranya jika semua komponen di tubuh bangsa ini menjaga anugerah Allah berupa Indonesia negeri dan bangsa yang majemuk ini bagikan rumpun bambu yang satu,” ungkap Haedar.

Melalui semangat kebinekaan dan didukung komitmen semua pihak, Haedar optimistis setiap permasalahan yang timbul dari gesekan antarkomponen bangsa dapat terselesaikan dengan baik. Tentunya dengan mengedepankan semangat perdamaian, persaudaraan, dan persatuan sebagai keluarga besar bangsa.

“Kejadian-kejadian yang mengganggu kolektivitas berbangsa apapun penyebabnya yang tentu saja sangat tidak diinginkan oleh semua pihak benar-benar harus dicegah agar tidak boleh lagi terjadi lagi karena merugikan dan mengancam keutuhan hidup kebangsaan di negeri tercinta,” kata Haedar.

Haedar pun menyebut, “Di sinilah pentingnya kedewasaan semua pihak dalam berujar, bersikap, dan bertindak agar tidak mengganggu keberadaan hidup bersama. Kembangkan segala ikhtiar untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang ditunjukkan oleh kemauan dan sikap lapang hati untuk saling berbagi dan peduli, empati dan simpati, meminta maaf dan memaafkan, mengedepankan perdamaian, mengokohkan kebersamaan, serta menjunjungtinggi persatuan seluruh keluarga bangsa.”

Hanya dengan kearifan dan jiwa ikhlas satu sama lain, Haedar menyatakan, bangsa Indonesia akan tetap terjaga persatuan dan kebersamaannya di tengah dinamika hidup dalam kemajemukan. Haedar mengimbau masyarakat luas di seluruh Tanah Air agar mampu menahan diri, seksama, dan bijaksana. Khususnya dalam menghadapi berbagai masalah di tubuh bangsa Indonesia.

Menjujung tinggi kebersamaan dengan mengembangkan kearifan kolektif bahwa hidup bersama dalam kemajemukan memerlukan toleransi dan kedewasaan yang tinggi satu sama lain.

“Bersama dengan itu warga masyarakat dan para elite agar tidak terpancing dan tidak mengembangkan isu-isu yang berpotensi memanaskan situasi dan hal-hal yang berpotensi memecah-belah keutuhan bangsa,” ucap Haedar.

Kepada para pihak, termasuk melalui media sosial, menurut Haedar, tidak perlu dikembangkan pernyataan-pernyataan dan apapun yang dapat memperkeruh keadaan. Sebaliknya, perlu dikedepankan ajakan, imbauan, dan pesan-pesan yang menciptakan suasana damai dan kondusif. Sikap bijak dan lapang hati tidak akan meluruhkan keberadaan setiap elite, warga, dan komponen bangsa.

“Sebaliknya kebesaran jiwa dan kearifan justru melambangkan kekuatan spiritual, moral, dan akhlak mulia setiap insan dan golongan bangsa di negeri tercinta ini,” kata Haedar.

Haedar mengatakan, persoalan bangsa Indonesia tidaklah sederhana. Memerlukan pemahaman, pemetaan, dan pemecahan masalah yang seksama dan menyeluruh. Karenanya diperlukan pendekatan dari aspek spiritualitas, hukum, politik, ekonomi, budaya, dan aspek-aspek lainnya yang saling terkait satu sama lain secara menyeluruh.

“Kepada para pejabat dan elite negeri maupun tokoh masyarakat dan agamawan di mana pun berada penting semakin mengedepankan komitmen, amanat, dan tanggunjawab yang tinggi dalam mengurus dan memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara di atas egoisme diri dan kelompok sehingga rakyat dan umat memiliki panduan dan suri teladan dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk ini. Sebarkan nilai-nilai keagamaan dan keruhanian yang menenteramkan, mendamaikan, menyatukan, memajukan, dan mencerahkan kehidupan bersama,” ungkap Haedar.

Sebagai penutup, Haedar mengungkap, “Semoga Allah Yang Maha Kuasa memberikan bimbingan, perlindungan, dan berkah bagi bangsa Indonesia serta kita sebagai umat yang beragama semakin beriman dan bertaqwa kepada-Nya dengan terus beramal-kebajikan atas nama-Nya yang menyebar rahmat bagi semesta alam.”



Sumber: Suara Pembaruan