Masyarakat Jambi Ramai-ramai Salat Minta Hujan

Masyarakat Jambi Ramai-ramai Salat Minta Hujan
Jajaran aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Provinsi Jambi mengikuti mengikuti doa bersama, Salat Istisqa meminta hujan di lapangan kantor Gubernur Jambi, Kamis (22/8/2019) sore. ( Foto: Suara Pembaruan / Radesman Saragih )
Radesman Saragih / FMB Jumat, 23 Agustus 2019 | 11:03 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Warga masyarakat dan jajaran pemerintahan di Provinsi Jambi beberapa pekan terakhir mengintensifkan doa bersama, salat istisqa, untuk meminta turunnya hujan. Jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi juga menggelar salat meminta hujan tersebut di lapangan kantor Gubernur Jambi, Kamis (22/8/2019). Salat istisqa tersebut turut dihadiri Gubernur Jambi, Fachrori Umar dan Kapolda Jambi, Irjen Pol Muchlis AS.

Fachrori Umar pada kesempatan tersebut mengatakan, kemarau panjang yang melanda Provinsi Jambi selama tiga bulan terakhir menimbulkan bencana kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan asap. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, masyarakat dan swasta mengatasi bencana kekeringan, karhutla dan asap tersebut. Namun upaya tersebut tak mampu secara maksimal mengatasi dampak kemarau.

“Kekeringan, karhutla dan kabut asap telah menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan masyarakat Jambi. Sudah hampir beberapa bulan ini semua warga Jambi merasakan dampak kabut asap dan kekeringan. Asap dan kekeringan tersebut menimbulkan berbagai permasalahan sosial, terutama gangguan kesehatan, mengganggu proses pendidikan dan menghambat aktivitas transportasi. Karena itu kita mesti berdoa meminta hujan turun," katanya.

Menurut Fachrori Umar, pelaksanaan salat istisqa untuk meminta hujan kepada Tuhan yang digelar Pemprov Jambi tersebut merupakan wujud pengakuan kepada Tuhan bahwa hanya Dia yang mampu mengatasi semua kesulitan yang dialami masyarakat akibat kemarau panjang saat ini.

“Selain selain memohon doa dan ampun kepada Tuhan serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan agar diturunkan segera hujan, kita juga perlu melakukan introspeksi diri agar lebih bijak menjaga lingkungan hidup, mengelola dan memanfaatkan alam," tambahnya.

Sementara itu, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Jambi, Hasbi Asshiddiqie selaku khatib atau pemimpin pada salat istisqa tersebut mengatakan, menerangkan permohonan doa turunnya hujan dapat dilakukan secara sendiri namun pelaksanaan dengan berjamaah.

“Pada zaman Nabi Musa pernah dilaksanakan salat istisqa memohon turunnya hujan karena kekeringan yang melanda negeri Mesir. Hal yang sama juga kita lakukan agar hujan membasahi Jambi,” katanya.

Kapolda Jambi, Irjen Pol Muchlis AS seusai salat istisqa tersebut mengatakan, pihaknya telah menahan 10 orang pelaku pembakar hutan dan lahan. Kesepuluh pelaku pembakar hutan dan lahan dari kalangan petani itu sudah ditetapkan sebagai tersangka dan menunggu pelimpahan berkas ke kejaksaan. Sedangkan pihak korporasi atau perusahaan sawit yang saat ini diperiksa terkait karhutla ada satu.



Sumber: Suara Pembaruan