Gagal Tembus 20 Besar Seleksi Capim KPK, Laode Syarif: Biasa Saja

Gagal Tembus 20 Besar Seleksi Capim KPK, Laode Syarif: Biasa Saja
Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif (kanan) bersiap mengikuti tes uji kompetensi Seleksi Calon Pimpinan KPK di Pusdiklat Kementerian Sekretaris Negara, Cilandak, Jakarta, Kamis, 18 Juli 2019. ( Foto: ANTARA FOTO / Aprillio Akbar )
Fana Suparman / FMB Sabtu, 24 Agustus 2019 | 12:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan 20 kandidat yang lulus seleksi profile assesment atau seleksi tahap 4. Para kandidat tersebut menyingkirkan 20 kandidat lain yang mengikuti uji profile assestment yang digelar di Gedung Lemhanas pada 8-9 Agustus 2019 lalu.

Sejumlah nama yang dikenal publik turut gugur di tahapan ini. Salah satunya, Wakil Ketua KPK Jilid IV Laode M. Syarif. Nama Syarif tak disebut oleh Ketua Pansel KPK Yenti Garnasih saat mengumumkan 20 orang peserta yang lulus seleksi tahap 4 di Gedung Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Jumat (23/8/2019). Dengan demikian, Syarif dipastikan tidak lagi berkantor di KPK pada periode 2019-2023 mendatang.

Menanggapi pengumuman Pansel, Syarif mengaku biasa saja. Menurutnya, apapun keputusan Pansel patut untuk disyukuri.
“Perasaan saya biasa saja ketika tidak lulus ke 20 besar. Sebagaimana yang saya kemukakan sebelum-sebelumnya, ‘lulus alhamdulillah -tidak lulus, juga alhamdulillah ’," kata Syarif saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Jumat (23/8/2019).

Setelah tak lagi bekerja di Gedung Merah Putih nanti, Syarif mengaku terdapat sejumlah kegiatan yang akan dilakukannya. Salah satunya kembali ke kampus untuk mengajar. Diketahui, sebelum menjabat Komisioner KPK periode 2015-2019, Syarif merupakan dosen di almamaternya, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Pemilik gelar sarjana hukum dari Universitas Hasanuddin, LL.M dari Queensland University of Technology, Brisbane, dan Ph.D dalam hukum lingkungan hidup internasional dari Universitas Sydney ini memiliki konsentrasi pada hukum lingkungan.

"Banyak yang bisa saya kerjakan. Mengajar," katanya.

Selain mengajar, Syarif juga mengaku akan terus berjuang memberantas korupsi di Indonesia. Termasuk membantu KPK dari luar.

"Bikin program anti-korupsi, bantu KPK dari luar, atau bantu lembaga-lembaga anti-korupsi lain di negara lain, bantu beberapa organisasi Internasional, dan lain-lain," paparnya.

Dengan gugurnya Syarif, saat ini Komisioner KPK Jilid IV yang masih bertahan di seleksi Capim KPK Jilid V tinggal Alexander Marwata. Satu Komisioner KPK lainnya, yakni Basaria Panjaitan telah dinyatakan gugur saat seleksi tahap tes psikologi.
Alexander dan pegawai KPK, Sujanarko bersama 28 kandidat yang dinyatakan lulus profile assesment akan menjalani tahapan berikutnya yakni uji kesehatan di di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta pada Senin (26/8/2019).

Berikutnya, 20 kandidat yang tersisa akan mengikuti tahap wawancara dan uji publik yang dilaksanakan di Ruang Serba Guna Kementerian Sekretariat Negara pada 27 Agustus hingga 29 Agustus 2019. Setidaknya setiap hari, terdapat tujuh peserta yang menjalani tes wawancara dan uji publik. Dari 20 kandidat ini, Pansel akan memilih 10 capim untuk diserahkan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Nantinya, nama-nama tersebut akan menjalani uji kepatutan dan kelayakan di DPR hingga akhirnya dipilih lima nama sebagai Pimpinan KPK periode 2019-2024.



Sumber: Suara Pembaruan