Pascaoperasi Pemisahan, Adam dan Malik Boleh Pulang Senin

Pascaoperasi Pemisahan, Adam dan Malik Boleh Pulang Senin
Bayi kembar siam Adam dan Malik sebelum operasi pemisahan. ( Foto: Suara Pembaruan / Arnold Sianturi )
Arnold H Sianturi / HA Sabtu, 24 Agustus 2019 | 14:32 WIB

Medan, Beritasatu.com - Adam dan Malik, bayi kembar siam dempet perut berusia tujuh bulan, menurut rencana sudah boleh dibawa pulang oleh orangtuanya ke kampung halaman di Desa Manalu Purba, Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Senin (26/8/2019) lusa, satu bulan setelah menjalani operasi pemisahan di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan.

"Setelah sebulan menjalani perawatan pascaoperasi pemisahan oleh tim medis, kondisi Adam dan Malik semakin hari bertambah membaik. Kedua bayi ini dapat dibawa pulang oleh orang tuanya setelah tim ahli memberikan rekomendasi. Sehingga, tidak ada masalah bila dibawa pulang," ujar Kepala Sub Bagian Humas RSUP H Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak, Sabtu (24/8/2019).

Dorothy menyampaikan, acara pemulangan Adam dan Malik yang merupakan buah hati pasangan Juliadi Silitonga (29) dan Nurida Sihombing (28) tersebut, rencananya akan dihadiri langsung oleh Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah, Bupati Tapanuli Utara, Nikson Nababan dan pihak Dinas Kesehatan Sumut.

"Jauh hari sebelum dilakukan pemulangan atas Adam dan Malik, orang tuanya juga sudah diberikan masukan dalam merawat bayinya tersebut. Pembelajaran ini dianggap penting agar tidak ada masalah dengan kondisi kesehatan kedua bayi untuk ke depannya. Semoga tidak ada masalah atas kesehatan kedua bayi itu. Namanya masih bayi, asupan gizi itu paling utama," katanya.

Adam dan Malik saat ini sudah berusia delapan bulan. Mereka lahir di RSU Sibolga pada 22 November 2018. Setelah proses persalinan, bayi kembar siam tersebut dibawa ke Medan untuk mendapatkan perawatan. Sebelum menjalani operasi pemisahan pada 23 Juli lalu, bayi kembar itu memiliki berat badan 17 kg dengan tinggi badan sekitar 65 centimeter.



Sumber: Suara Pembaruan