Dampak Kemarau di Batanghari Meluas

Dampak Kemarau di Batanghari Meluas
Ilustrasi sawah puso. ( Foto: Antara )
Radesman Saragih / FER Minggu, 25 Agustus 2019 | 19:19 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Dampak kemarau panjang terhadap lahan pertanian dan tanaman pangan di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, terus meluas. Total tanaman padi sawah yang rusak akibat kekeringan di Kabupaten Batanghari hingga Sabtu (24/8/2019) sudah mencapai 1.858 hektare.

"Dari seluruh tanaman padi yang kekeringan tersebut, sekitar 108 hektare mengalami puso, 786 hektare rusak berat dan 594 hektare rusak ringan. Bila kemarau masih berlanjut hingga beberapa pekan mendatang, tanaman padi yang puso di daerah ini dipastikan bakal bertambah," kata Kepala Seksi (Kasi) Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Batanghari, Isnen, di Batanghari, Jambi, Minggu (25/8/2019).

Menurut Isnen, banyaknya sawah yang kekeringan di Batanghari selama musim kemarai tiga bulan terakhir akibat sumber air dari sungai kering dan rawa. Keringnya sungai dan rawa membuat irigasi tidak berfungsi.

"Pompanisasi yang dilakukan petani juga tidak mampu meyelamatkan sebagian besar tanaman padi karena sumber air sulit,” ujarnya.

Isnen menjelaskan, lahan sawah yang paling banyak mengalami kekeringan di Kabupaten Batanghari terdapat di Muarabulian, yakni mencapai 787 hektare. Sawah yang kekeringan di kecamatan tersebut terdapat di Desa Pasar Terusan, Malapari, Sungai Baung, Napal Sisik, Tenam, dan Rengas Condong.

Kemudian sawah yang kekeringan di tiga desa, Desa Terusan, Kelurahan Terusan dan Danauembat, Kecamatan Marosebo Ilir mencapai 535 hektare. Sedangkan sawah yang kekeringan di Kecamatan Pemayung mencapai 240 hektare. Sawah yang kekeringan tersebut tersebar di delapan desa, yakni Teluk, Selat, Ture, Senaning, Lopak Aur, Pulau Betung, Olak Rambahan dan Pulau Raman.

Isnen menambahkan, lahan sawah yang mengalami kekeringan di Desa Tebingtinggi, Desa Sungai Lingkar, Desa Simpang Rantau Gedang dan Desa Sengkati Baru, KecamatanMarosebo Ulu mencapai 105 hektare. Selain itu di Kecamatan Muaratembesi, total sawah yang kekeringan mencapai 77,5 hektare.

"Sawah kekeringan itu terdapat di Desa Tanjungmarwo, Pulau, Rantau Kapas Tuo, Rantau Kapas Mudo, Suka Ramai, Ampelu, Pasar Tembesi, Pematang Limo Suku dan Kampung Baru. Sawah yang kekeringan di Desa Karmeo, Kecamatan Batin XXIV mencapai 80 hektare," kata Isnen.

Untuk membantu para petani, lanjut Isnen, pihaknya masih terus mengoperasikan dua unit pompa air. Kedua pompa iar itu masih bisa mengairi sebagian sawah yang dekat dengan Sungai Batanghari. "Jarak sawah yang bisa mendapat pasokan air menggunakan pompa air dari Sungai Batanghari mencapai 400 meter," jelasnya.

Menurut Isnen, untuk mengatasi kerugian petani akibat kekeringan tersebut, pihaknya kini melakukan pendataan jumlah petani yang sawahnya mengalami puso.

"Petani yang sawahnya puso dan mereka telah masuk asuransi pertanian akan mendapatkan ganti rugi Rp 6 juta per hektare. Sedangkan petani lain yang tidak masuk asuransi akan diberi bantuan benih padi," pungkas Isnen.



Sumber: Suara Pembaruan