Milenial Diminta Tak Ragu Berdialektika tentang Pancasila

Milenial Diminta Tak Ragu Berdialektika tentang Pancasila
Presiden Joko Widodo (tengah), memberikan hormat saat memimpin upacara Hari Lahir Pancasila di depan Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat 1 Juni 2018. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao / SP/Joanito De Saojoao )
Fana Suparman / WM Jumat, 30 Agustus 2019 | 15:09 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Pancasila sebagai falsafah, ideologi, dan dasar negara merupakan kesepakatan bangsa Indonesia. Namun, sebagai falsafah, diskusi dan dialektika mengenai interpretasi makna Pancasila seharusnya tidak ditutup. Tanpa diskusi, bangsa Indonesia, terutama generasi milenial tidak akan pernah tahu pentingnya Pancasila bagi Indonesia.

"Kalau kita ingin Pancasila betul-betul dirasakan oleh setiap orang oleh milenial, oleh anak muda atau siapapun. Kita harus bisa terus mendiskusikan Pancasila. Kalau kita menjadikannya sebagai simbol yang tidak bisa diutak-atik kita tidak pernah merasakan pentingnya Pancasila," kata politikus PSI, Tsamara Amany dalam diskusi 'Pancasila Terhadap Problematika Millenial' di Jakarta, Kamis (29/8/2019).

Tsamara mengatakan, lahirnya Pancasila diawali dari perbedaan pendapat, diskursus hingga perdebatan para pendiri bangsa. Pancasila lahir sebagai nilai tengah atas berbagai perbedaan pendapat, latar belakang persoalan dan perjuangan bangsa Indonesia. Untuk itu, katanya, agar Pancasila dapat dipahami dan dihayati, generasi muda diminta tak ragu membaca buku-buku soal Pancasila, dan berdiskusi mengenai makna Pancasila.

"Kalau kita mau Pancasila, kita merasakan Pancasila, kita harus diskusikan Pancasila, bicarakan Pancasila, dan baca dokumen-dokumen Konstituante, dokumen BPUPKI. Supaya kita tahu apa itu Pancasila. Karena bicara Pancasila kita bicara sejarah bangsa kita. Tanpa itu semua kita kehilangan makna kenapa Pancasila begitu penting bagi Indonesia. Tapi memahami konteks dan esensi Pancasila membuat kita sadar Pancasila harus menjadi bagian Indonesia," katanya.

Tsamara mengatakan, Pancasila seharusnya tidak hanya menjadi simbol dan doktrinasi semata seperti yang terjadi di masa silam. Dengan hanya menjadi simbol, Tsamara khawatir Pancasila menjadi legitimasi kekuasaan dan bahkan menjadi alat untuk melakukan kekerasan. Padahal, , Pancasila sendiri tidak dapat menyelesaikan persoalan bangsa yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Setiap persoalan bangsa, harus diselesaikan dengan partisipasi seluruh komponen bangsa. Untuk itu, Indonesia memilih jalan demokrasi. Sementara Pancasila, kata Tsamara merupakan pelindung bagi demokrasi Indonesia.

"Kalau Pancasila digunakan sebagai sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat dan legitimasi terhadap tafsir tunggal itu jadi masalah. Justru Pancasila harus menjadi Bapak atau Ibu kita dalam perbedaan pendapat di Indonesia ini. Pancasila harusnya menjadi pelindung demokrasi kita," katanya.

Dinamis

Hal senada dikatakan Aurelia Vizal dari Generasi Melek Politik. Dikatakan, Pancasila seharusnya fleksibel dan dinamis mengikuti perubahan zaman. Dikatakan, makna Pancasila pada era Orde Baru tentu berbeda dengan makna Pancasila pada saat ini.
"Pancasila lebih dinamis pada kebutuhan zaman, bukan pada pemerintah yang sedang berkuasa," katanya.

Pancasila, kata Aurelia merupakan norma dasar dari pembentukan kebijakan dan program pemerintah. Selain itu, Pancasila merupakan falsafah dasar prilaku politik dari seluruh masyarakat Indonesia dalam menentukan masa depan bangsa.
"Bukan legitimasi salah atau benar yang penting Pancasila," katanya.

Menurut Aurelia, sesakti apapun, Pancasila adalah kata-kata yang bersifat interpretasi. Dengan demikian, interpretasi atas Pancasila akan berbeda pada setiap orang atau tidak absolut.

Untuk itu, kata Aurelia, diskusi mengenai interpretasi atas Pancasila menjadi penting dilakukan, terutama untuk generasi muda.

"Pancasila bukan batasan rigid dan absolut, tapi sesuatu yang dinamis yang sesuai dengan kebutuhan kita. Yang penting, falsafah kita Ketuhanan Yang Maha Esa, pluralisme, menghargai orang lain dan sebagainya," katanya.

Sementara Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Komjen Pol Dharma Pongrekun mengatakan, Nusantara berasal dari kata Sansekerta yakni Nus swa an dan ra yang memiliki arti makhluk mandiri yang menuju fitrah Tuhan. Sementara fitrah manusia tercantum dalam Pancasila.

"Itulah pandangan dan cara hidup bangsa Indonesia yang merupakan the land of harmony dunia. Hanya Indonesia yang bisa harmoni," katanya.

Pancasila merupakan falsafah dan konsep berpikir dan berprilaku agar dapat diimplementasikan. Dengan demikian prilaku bangsa Indonesia tidak keluar dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

"Center of gravity Indonesia itu Pancasila. Kekuatan Indonesia adalag Pancasila," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan