Pengemudi Diimbau Patuhi Pembatasan Kecepatan di Jalan Tol

Pengemudi Diimbau Patuhi Pembatasan Kecepatan di Jalan Tol
Petugas saat mengevakuasi kendaraan yang terlibat kecelakaan beruntun di Jalan Tol Cipularang, Senin 2 September 2019. ( Foto: Antara / Ali Khumaini )
Adi Marsiela / CAH Selasa, 3 September 2019 | 17:43 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Hery Antasari mengimbau pengemudi agar selalu mematuhi pembatasan kecepatan maksimum serta menjaga jarak dengan kendaraan di depannya saat melintasi jalan tol. Imbauan ini terkait tabrakan beruntun yang melibatkan 21 mobil dan mengakibatkan delapan orang meninggal dunia di tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi KM91 ruas Bandung-Jakarta, Senin, 2 September 2019.

Pembatasan kecepatan ini, ungkap Hery, terutama saat pengemudi dari Bandung menuju Jakarta memasuki kawasan menurun mulai dari KM90 hingga KM97. “Itu geometric jalan lurus, menurun 20 persen, ada belokan hampir 70 derajat. Ini agak riskan kalau punya tidak punya kendaraan laik jalan,” ujar Hery menjawab SP di Bandung, Selasa (3/9).

Pengemudi yang tidak mengindahkan rambu peringatan batas kecepatan maksimum saat menuruni jalanan itu bisa melaju makin cepat seiring adanya gravitasi. Apabila tidak waspada, pengemudi bisa saja tidak memiliki jarak dan waktu yang cukup untuk melakukan pengereman.

Untuk meningkatkan kewaspadaan pengemudi, Hery menambahkan, pihaknya juga akan menyampaikan kepada pengelola jalan tol untuk menambah rambu-rambu peringatan yang cukup besar. “Pemasangannya bisa mulai dari KM99 atau KM98. Dipasang setiap 500 meter, begitu juga di pintu keluar rest area,” ungkap Hery.

Masukan ini akan disampaikannya saat melakukan pertemuan dengan pengelola tol. Masukan serupa akan diteruskan ke Badan Pengelola Jalan Tol terkait prosedur standar operasional di titik-titik kerawanan kecelakaan lalu lintas.

“Bisa juga dipasang pita kejut saat hendak memasuki (kawasan rawan kecelakaan) sebagai peringatan buat pengemudi agar menurunkan kecepatan kendaraannya,” tutur Hery.

Soal rekomendasi adanya pembuatan escape road di bagian samping jalan tol, Hery memperkirakan tidak akan berjalan efektif karena saat kendaraan berjalan menurun kecepatannya akan tinggi. “Bisa jadi malah terbang nanti kendaraannya,” ungkap Hery terkait antisipasi escape road seperti yang dibuat di turunan Tanjakan Emen, Subang.



Sumber: Suara Pembaruan