Polemik Wisata Halal

Gubernur Sumut: Wisata Halal Bukan Hilangkan Budaya Batak

Gubernur Sumut: Wisata Halal Bukan Hilangkan Budaya Batak
Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, memberikan keterangan kepada wartawan usai melaksanakan salat di Masjid Agung Medan, Kamis (22/8/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Arnold Sianturi )
Arnold H Sianturi / FER Selasa, 3 September 2019 | 23:20 WIB

Nias, Beritasatu.com - Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi menyampaikan, wisata halal yang menimbulkan polemik di tengah masyarakat, khususnya bagi etnis Suku Batak di sekitar Danau Toba, bukan untuk menghilangkan budaya maupun mengecilkan agama tertentu.

"Ada pihak yang salah menafsirkan, kemudian mendramatisir wisata halal, dan akhirnya menyalahkan. Ini yang menjadi masalah. Masyarakat menjadi salah menanggapinya," ujar Edy Rahmayadi saat melakukan kunjungan ke Nias, Sumatera Utara, Selasa (3/9/2019).

Mantan Pangkostrad ini menjelaskan, setiap daerah pariwisata menjadi ramai tempat kunjungan wisata, bukan dipandang karena agama yang dianut masyarakat sekitarnya. Namun, setiap daerah wisata juga harus mempertimbangkan suatu kebutuhan wisatawan.

"Kita tidak memandang apa pun itu agamanya. Tetapi kalau ada orang Islam datang ke tempat itu, contoh di Bali, ada makanan di situ, rumah makan halal. Di Thailand yang mayoritas beragama Buddha, tapi di situ ada rumah makan halal," jelasnya.

Menurutnya, konsep wisata yang sedang dibangun untuk mengembangkan pariwisata Danau Toba sebagai destinasi wisata internasional, juga tidak menghilangkan akar budaya masyarakat yang sudah turun- temurun di sekitar Danau Toba.

"Banyak orang yang tidak memahami. Konsep wisata halal Danau Toba bukan berarti semua rumah makan di sana harus berlabel halal. Ini orang-orang belum mengerti, bahkan sampai ada yang mendramatisir. Itu dia yang menjadikan masalah," ungkapnya.

Menurut Edy, produk halal itu bukan merupakan kewenangan pemerintah untuk memberikan penjelasan. Itu merupakan kewenangan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menjelaskan, termasuk di daerah wisata lainnya.

"Seperti penyelenggaran Sail Nias 2019 yang akan berlangsung dalam waktu dekat ini. Orang-orang tidak akan datang ke Nias apabila tak ada tempat untuk makan. Kita tidak boleh mengecilkan agama apapun," sebutnya.



Sumber: Suara Pembaruan