Mahasiswa Harus Melatih Diri Menjadi Penulis yang Baik

Mahasiswa Harus Melatih Diri Menjadi Penulis yang Baik
Mahasiswa baru. ( Foto: Antara )
Jeis Montesori / JEM Rabu, 4 September 2019 | 22:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Efriza, salah satu narasumber dalam acara Sebar Tikar 3.0 bertema “Peran Generasi Muda dalam Membangun Demokrasi di Indonesia,” memberikan motivasi kepada para mahasiswa baru di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Dosen Ilmu Politik pada Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIP-AN) Jakarta ini mendorong para mahasiswa agar rajin menulis karena hal itu sangat penting bagi para mahasiswa dalam mempertajam ilmu mereka.

Menurut Efriza, saat ini para mahasiswa atau generasi muda pada umumnya, hampir semua rajin menulis di media sosial. “Tetapi, untuk menulis karya yang lebih ilmiah dan akademis, antusiasme mahasiswa malah kurang. Tampaknya menjadi penulis, masih menjadi bagian tak menarik, dibandingkan menjadi pembicara,” kata Efriza yang sudah menelorkan sejumlah buku tentang politik, sosial serta informatika di Tanah Air.

Efriza mengatakan, kemampuan menulis secara akademis ataupun ilmiah akan menjadi sebuah tuntutan utama bagi seorang mahasiswa. Oleh sebab itu, Efriza mengingatkan para mahasiswa baru UPN Veteran untuk terus melatih kemampuan menulis sehingga tidak menghadapi kendala dalam menghadapi tantangan yang makin kompetitif saat ini.

“Kewajiban menulis menuntut mahasiswa menyelesaikan tugas akhir melalui penulisan karya ilmiah sebagai tugas akhir. Jika mahasiswa tidak mempersiapkan diri dari awal untuk menulis, maka nanti akan terkendal saat harus membuat skripsi yang menjadi penentu kualtias kelulusan mahasiswa,” ujar Efriza, yang telah menulis buku sejak duduk di semester tiga pada sebuah perguruan tinggi di Jakarta.

Menulis itu bukan bakat, tetapi dipelajari, kata Efriza. Ia pun membagikan pengetahuannya tentang bagaimana bisa menjadi menulis dan ilmu itu diperolehnya dari lingkup organisasi internal kampus.
“Rekan mahasiswa yang kebetulan adalah pers di suatu surat kabar mengajarkan bahwa dalam menulis jangan memikirkan tanda baca dulu, tetapi deskripsikan apa yang ada di sekitar kita. Dari situ saya pun mulai belajar menulis sampai saat ini,” kata Efriza.

Menurut Efriza, memiliki kemampuan menulis juga sekaligus akan dibarengi dengan meningkatnya minat membaca seseorang. “Menulis juga turut disertai kemampuan banyak mencatat dan diperlukan juga banyak berdiskusi,” katanya.

Dan yang terpenting, kata Efriza, yaitu menulis mengajarkan seseorang menjadi tidak sok tahu, karena sebagai penulis, ia memahami banyak persoalan dan maknanya.

Di sisi lain, tulisan yang baik juga ditunjang oleh kemampuan penulisnya menjadi pembaca. “Tulisan yang bagus adalah tulisan yang bisa dipahami pembaca, bukan tulisan untuk diri si penulis semata. Serta, jangan lupa pesan itu harus tersampaikan dengan jelas,” kaya Efriza.

Ia mencontohkan para politisi muda yang sekarang terpilih sebagai anggota DPR, terpilih karena faktor keluarga atau memang karena kapabilitasnya, ini perlu dijawab oleh mahasiswa dengan sebuah tulisan.

“Jika hanya sekadar lisan, akan mudah menjawab bahwa karena faktor keluarga. Tetapi ketika kita akan menuliskannya, maka kita pasti akan menelusuri dulu data-data terkait, baru kita dapat menyimpulkannya. Artinya, melatih mahasiswa menulis itu juga mempersiapkan mahasiswa, untuk belajar melakukan riset melalui penelusuran litelatur,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan