Mengabdi sebagai Menko PMK, Puan Terima Tanda Kehormatan Lemhanas

Mengabdi sebagai Menko PMK, Puan Terima Tanda Kehormatan Lemhanas
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani (kanan) menerima penghargaan pin tanda alumni kehormatan Lemhanas RI dari Gubernur Lemhanas Agus Widjojo di Jakarta, Kamis (19/09/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Dok. Humas Kemko PMK )
Dina Manafe / FER Kamis, 5 September 2019 | 15:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani menerima penghargaan pin tanda alumni kehormatan Lemhanas.

Penyematan pin dilakukan Gubernur Lemhanas, Agus Widjojo, dan disaksikan oleh Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri, Ketua Ikatan Alumni Lemhanas Agum Gumelar, dan para Menteri Kabinet Kerja di Gedung Auditorium Gadjah Mada, Lemhanas, Jakarta, Kamis (5/9/2019).

Gubernur Lemhanas, Agus Widjojo mengatakan, tanda alumni kehormatan itu merupakan bentuk penghormatan Lemhanas kepada WNI yang tidak mengikuti program pendidikan reguler Lemhanas, namun telah memberikan darma bakti dan sumbang pemikiran yang luar biasa terhadap perkembangan Lemhanas khususnya serta pembangunan bangsa Indonesia pada umumnya.

"Sebagai WNI, Puan Maharani telah mengabdi sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan selama lima tahun yakni periode 2014-2019. Beliau adalah menteri koordinator termuda sepanjang sejarah kabinet menteri di Indonesia," kata Agus.

Sebagai sosok perempuan muda yang inovatif, Puan dinilai telah mampu memberikan kontribusi karya, pemikiran yang luar biasa dalam meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia. Sebagai seorang menko yang membawahi delapan kementerian, Puan pun dinilai sanggup mengoordinasikan pekerjaan berbeda di tiap-tiap kementerian.

Dalam orasinya, Puan menyampaikan pandangan tentang peran kebudayaan dalam era disrupsi untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Hal itu terkait erat dengan situasi saat ini serta tugas strategis yang dialamatkan dalam pembangunan manusia dan kebudayaan.

Menurut Puan, saat ini Indonesia sedang memasuki era disrupsi yang penuh kegamangan dan keguncangan. Era di mana berbagai aturan, aktor dan nilai-nilai, berganti secara mendalam. Yang terjadi bukan saja pergantian generasi secara biologis, tetapi pergantian gaya hidup, jenis pekerjaan dan pandangan terhadap identitas diri.

"Inilah era di mana yang cepat akan menggantikan yang lambat. Kecepatan menjadi kata kunci perubahan sekaligus mantra era disrupsi. Perubahan kearah mana, dengan cara bagaimana dan untuk kepentingan siapa, itulah persoalan kebudayaan,” kata Puan.

Puan menambahkan, membangun kemajuan Indonesia harus dilandasi dengan kebudayaan nasional yang kuat dan berkepribadian Bangsa Indonesia. Kebudayaan tidak semata-mata ditempatkan sebagai identitas, simbol status, dan semacamnya, akan tetapi kebudayaan difungsikan untuk membentuk cara berpikir, berperilaku, dan berkarya bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Untuk itu sangat penting memastikan agar negara menjamin terlaksananya pembangunan manusia Indonesia yang berkebudayaan Indonesia. Berkepribadian dalam kebudayaan Indonesia, berarti manusia dan budaya Indonesia yang menghormati nilai luhur budaya bangsa, memahami akar kepribadian bangsa, sebagai bangsa yang ramah, toleran, religius, dan bergotong royong.

Namun demikian, berkepribadian dalam kebudayaan Indonesia juga tidak berarti anti budaya asing. Dengan kepribadian bangsa yang kuat, budaya asing akan dapat disaring dan dilarutkan dalam kebudayaan nasional.



Sumber: Suara Pembaruan