Kardinal Suharyo Persembahkan Bunda Maria untuk Tanah dan Rakyat Papua

Kardinal Suharyo Persembahkan Bunda Maria untuk Tanah dan Rakyat Papua
Kardinal Suharyo (kanan) menerima patung Bunda Maria Segala Suku dari AM Putut Prabantoro (baju putih) di kediamannya komplek Katedral Jakarta, Rabu, 4 September 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Kamis, 5 September 2019 | 22:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kardinal Ignatius Suharyo, yang juga Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), memberi sebuah patung Bunda Maria yang sedang menggendong bayi Yesus, untuk tanah dan rakyat Papua. Pemberian patung itu sebagai tanda cinta yang mendalam kepada pulau terbesar di Indonesia itu.

Kardinal Suharyo berharap agar patung yang terbuat dari kayu gaharu itu akan membawa kedamaian dan perdamaian di tanah Papua yang saat ini sedang bergejolak.

Maksud dari pemberian itu diungkapkan Kardinal Suharyo secara khusus kepada pegiat devosi kebangsaan, AM Putut Prabantoro dan Georgius Gomas Harun saat memberikan Patung Maria Bunda Segala Suku di rumah kediaman Kardinal di Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Kardinal Suharyo menghendaki patung tersebut diberikan ke tanah dan rakyat Papua melalui Uskup Jayapura Leo Laba Ladjar. Secara khusus, Kardinal Suharyo menitipkan patung Bunda Maria tersebut kepada Georgius Gomas Harun untuk membawanya ke tanah Papua.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (5/9/2019), Gomas Harun mengatakan, patung dengan berat empat kg dan tinggi 60 cm itu terbuat dari kayu gaharu yang sudah sangat langka. Bahan dasar patung, yakni kayu gaharu, merupakan persembahan dari Antoni Ong yang tinggal di Jayapura, Papua, dan kemudian dibuat menjadi patung oleh salah satu maestro patung di Bali.

“Saya tidak tahu berapa tahun usia kayu gaharu tersebut, namun saya kira sudah tua sekali jika dilihat dari urat-urat yang ada pada patung tersebut. Ketika beliau menghendaki patung tersebut dihadiahkan kepada tanah dan rakyat Papua, saya dapat merasakan cinta beliau yang sangat mendalam kepada tanah dan rakyat Papua. Beliau ingin patung Bunda Maria itu dapat menghadirkan kedamaian dan perdamaian di tanah Papua. Beliau sangat prihatin atas apa yang terjadi di tanah Papua saat ini,” ujar Gomas Harun.

Namun Gomas Harun menyatakan belum tahu kapan waktu yang tepat untuk membawa patung tersebut ke Papua. Dirinya harus berkordinasi dengan Uskup Jayapura Leo Laba Ladjar terlebih dahulu untuk mendapatkan masukan apa saja yang harus dipersiapkan. Bagi Gomas, tugas khusus dari Kardinal menjadi tanggung jawab yang berat dan besar.

Sementara itu, AM Putut Prabantoro menegaskan bahwa patung dari Kardinal Suharyo ini adalah momentum sejarah bagi Gereja Katolik di Indonesia dan Tanah Papua khususnya terkait dengan penunjukan Mgr Ignatius Suharyo sebagai Kardinal oleh Paus Fransiskus akhir pekan lalu. Dalam konteks ini, Putut Prabantoro yakin bahwa tanah dan rakyat Papua menjadi perhatian Kardinal Suharyo, yang karena gelar tersebut memiliki hak memilih dan dipilih sebagai Paus.

“Patung Maria Bunda Segala Suku menjadi salah satu ikon Keuskupan Agung Jakarta yang diawali dengan perlombaan seni patung, lukis, dan fotografi yang diadakan pada 2015. Pada Mei 2017 diumumkan pemenang dari lomba tersebut adalah Robert Gunawan, seorang guru lukis anak-anak yang berasal dari Matraman, Jakarta. Dari lukisan tesebut kemudian dijadikan patung yang dikerjakan oleh maestro patung di Bali,” ujar Putut Prabantoro.

“Maria Bunda Segala Suku” adalah sebutan istimewa untuk Bunda Maria dan disebut fenomenal karena terkait dengan merebaknya ancaman terhadap keutuhan kebangsaan dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam malam penghargaan pada Mei 2017, Mgr Ignatius Suharyo mengatakan, di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Pernyataan Mgr Ignatius Suharyo “tidak ada yang kebetulan” merujuk pada waktu pengumuman pemenang sayembara lomba lukis, patung, dan fotografi yang mundur satu tahun dari seharusnya, yakni Mei 2016 atau setahun setelah pembukaan resminya pada 30 Mei 2015.

Namun , dengan berbagai alasannya, pengumuman itu baru terjadi pada 22 Mei 2017, ketika Indonesia terpolarisasi berlatarbelakang agama ketika Pilkada DKI Jakarta berlangsung.



Sumber: BeritaSatu.com