Tinjau Waterfront City di Kalbar

Presiden: Kampung Nelayan Pontianak Paling Cepat Penataannya

Presiden: Kampung Nelayan Pontianak Paling Cepat Penataannya
Presiden Joko Widodo di atas Kapal Patroli TNI Angkatan Laut "Lemukutan", seusai menyusuri Sungai Kapuas dengan kapal tersebut dari Mako Lantamal XII Pontianak hingga berlabuh di Alun-Alun Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (5/9/2019) ( Foto: Beritasatu Photo / Jeis Montesori )
Jeis Montesori / RSAT Jumat, 6 September 2019 | 10:05 WIB

Pontianak, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, upaya penataan kawasan permukiman nelayan dan tepi air di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) menunjukkan kemajuan yang sangat besar dalam tiga tahun terakhir.

"Kita lihat semuanya rapi, mulai dihijaukan. Kita lihatlah nanti setahun, dua tahun perbedaannya akan kelihatan, kurang sedikit saja yang kita kerjakan," kata Jokowi kepada wartawan seusai menyusuri wilayah Sungai Kapuas dan Sungai Landak di Kampung Beting, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Kamis (5/9/2019).

Kampung Beting terletak di pertemuan antara Sungai Kapuas dan Sungai Landak, menjadi salah satu percontohan penataan kawasan permukiman nelayan dan tepi air di Indonesia atau disebut waterfront city.

Dengan menggunakan kapal milik TNI Angkatan Laut, Presiden menyusuri kampung di tepi air yang berpenduduk sekitar 3.000 jiwa tersebut. Turut mendampingi Presiden Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Gubernur Kalbar Sutarmidji, dan Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono

Presiden mengatakan, setelah ditata dalam tiga tahun ini, rumah-rumah masyarakat yang dulu terlihat kumuh, saat ini jauh lebih baik.

"Tadi kita lihat hasilnya rumah yang dulunya membelakangi sungai, sebagian sudah menghadap ke sungai," ujar Jokowi.

Menurut Presiden, Kampung Beting menjadi waterfront-nya Sungai Kapuas dengan Sungai Landak sehingga dengan penataan yang sedang dilakukan pemerintah pusat bersama Pemprov Kalbar dan Pemkot Pontianak, maka di daerah itu akan tertata ruang publik yang kreatif di mana rakyat dapat melakukan berbagai macam aktivitas sosial, ekonomi, maupun sosial budaya.

Presiden juga mengatakan, selain Pontianak, ada tiga waterfront lainnnya yang dikerjakan pemerintah yakni kampung nelayan di Bengkulu, Tegal, dan Semarang, Jawa Tengah.

"Dari keempat waterfront itu, kampung nelayan di Pontianak ini yang paling bagus, paling nanjak," kata Jokowi.

Sementara Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, kementeriannya telah menyelesaikan pembangunan duplikasi Jembatan Landak yang menjadi tanggung jawab APBN yakni bentang tengah sepanjang 387 meter dan jalan pendekat (oprit) sisi selatan 73 m dan oprit sisi utara 44 m.

"Untuk jalan akses menuju jembatannya yang menjadi tanggung jawab Pemkot Pontianak masih ada tanah yang belum dibebaskan. Tadi disampaikan Pak Gubernur dan Wali Kota ditargetkan akan selesai Oktober 2019 untuk pengadaan lahannya," kata Basuki kepada wartawan.

Kementerian PUPR juga akan membangun duplikasi Jembatan Kapuas sepanjang 703,7 meter dan lebar 9 meter untuk meningkatkan kapasitas Jembatan Kapuas eksisting. "Karena kalau nanti Jembatan Landak II sudah digunakan, diperkirakan lalu lintasnya akan terhambat di Jembatan Kapuas. Untuk itu akan kita buat duplikasi Jembatan Kapuas, yang rencananya tahun 2020 ini akan diselesaikan desain dan Amdalnya, sehingga pada 2021-2022 bisa dilaksanakan konstruksinya," ujarnya.

Dirjen Bina Marga Sugiyartanto mengatakan, rencana lokasi pembangunan duplikasi Jembatan Kapuas akan sejajar dengan Jembatan Kapuas satu yang sudah ada sekarang. "Hal ini perlu dilakukan karena tingkat kepadatan lalu lintas di Kota Pontianak terus mengalami kenaikan. Sebagai upaya mengatasinya kita melakukan beberapa pelebaran jalan dan duplikasi jembatan, sekaligus akan coba kita benahi jalan lingkar dalam dan luar Kota Pontianak," ujar Sugiyartanto.

Pembangunan Jembatan Landak sendiri ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Kementerian PUPR dan Pemkot Pontianak pada Desember 2016. Dalam perjanjian tersebut disepakati bahwa Kementerian PUPR akan membuat detail engineering design-nya dan selanjutnya melaksanakan pembangunan jembatan tersebut. Konstruksi fisik Jembatan Landak II dimulai pada tahun 2017 dengan kontrak tahun jamak 2017-2019 senilai Rp 89,71 miliar.



Sumber: Suara Pembaruan