November, Landasan Pacu 3 Soetta Beroperasi Optimal 3.000 meter

November, Landasan Pacu 3 Soetta Beroperasi Optimal 3.000 meter
Budi Karya Sumadi saat mengunjungi Jakarta Air Traffic Service Center di Bandara Soekarno Hatta untuk melihat proses lepas landas dan mendarat pesawat di Runway (Landasan Pacu) 3, Minggu, 8 September 2019. ( Foto: Istimewa )
Thresa Sandra Desfika / JAS Minggu, 8 September 2019 | 19:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi landasan pacu atau runway 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta sepanjang 3.000 meter ditargetkan beroperasi pada November 2019.

Hal tersebut disampaikan Budi Karya Sumadi saat mengunjungi Jakarta Air Traffic Service Center di Bandara Soekarno Hatta untuk melihat proses take off dan landing pesawat di Runway 3, Minggu (8/9) sore.

Pada kesempatan tersebut, Menhub menyaksikan proses lepas landas (take off) pesawat Citilink dengan tipe pesawat Airbus 320 serta proses mendarat (landing) pesawat NAM Air tipe pesawat Boeing 737 700.

"Kami sampaikan bahwa Runway 3 beroperasi sudah 1 bulan dan berlangsung baik. Saat ini telah dioperasikan dengan panjang runway 2.500 x 45 meter. Oleh karenanya masih terbatas pada pesawat dengan kualifikasi Boeing 737 dan Airbus 320. Nanti pada bulan November, panjang Runway 3 menjadi 3.000×60 meter bisa dilaksanakan, semua pesawat bisa mendarat dan take off di situ," ungkap Menhub Budi dalam keterangannya, Minggu (8/9/2019).

Lebih lanjut disampaikan oleh Menhub, bahwa pergerakan pesawat yang tadinya hanya 75 pesawat per jam dapat meningkat kapasitasnya menjadi 81 pesawat per jam pada saat ini. Pergerakan ini akan dapat bertambah jumlahnya menjadi 100 pesawat per jam pada saat Runway 3 sudah memiliki panjang 3.000 m.

"Waktu saya saat masih menjadi Dirut PT AP II Soekarno Hatta pergerakannya 75, sekarang menjadi 81 setiap satu jam. Kalau nanti Runway 3 beroperasi dengan panjang 3.000 m, take off dan landing kurang lebih bisa menjadi 100 per jam," jelasnya.

Pembangunan Runway 3 yang merupakan arahan dari Presiden RI Joko Widodo, dapat melakukan penghematan hingga mencapai Rp 75 juta dihitung dari jumlah bahan bakar.

Hal ini ditegaskan pula oleh Direktur Utama PT Angkasa Pura II M. Awaluddin. Dia menjelaskan bahwa dari simulasi yang dilakukan oleh maskapai pada Agustus 2019 lalu, pembakaran bahan bakar pesawat dapat ditekan hingga Rp 70-75 juta karena pesawat tidak perlu menunggu lebih lama untuk mencapai apron setelah mendarat.

"Simulasi dari teman-teman maskapai saat 15 Agustus, terjadi penghematan bahan bakar maskapai karena tak perlu holding. Setelah landing, langsung dilakukan routing ke parking stand dengan lebih cepat. Fuel burn juga bisa diminimalkan sebesar 1.300 pound atau jika dikalkulasi mencapai Rp70-75 juta. Jadi kemampuan saat taxi hingga take off-landing lebih bervariasi," tutupnya.



Sumber: BeritaSatu.com