Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis di Purwokerto Masih Tonjolkan Logo Djarum

Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis di Purwokerto Masih Tonjolkan Logo Djarum
Anak-anak didampingi orang tua antusias mengikuti Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019 di GOR Satria, Purwokerto, Jawa Tengah, Minggu (8/9/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Manafe )
Dina Manafe / FMB Senin, 9 September 2019 | 12:33 WIB

Purwokerto, Beritasatu.com - Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019 tengah berlangsung ramai di Kabupaten Purwokerto, Jawa Tengah. Audisi yang secara resmi dibuka hari, Minggu (8/9/2019) di Gelanggang Olah Raga (GOR) Satria ini diikuti lebih dari 900 anak usia usia 13 tahun ke bawah dari Kota Purwokerto dan daerah sekitarnya. Para legenda bulutangkis Indonesia serta tim pelatih PB Djarum turut hadir dalam audisi ini, seperti Alan Budikusuma, Susy Susanti, Lius Pongoh, Hastomo Arbi, Engga Setiawan, Komala Dewi, Fendy Iwanto, dan Juniar Setioko.

Menariknya masih ditemukan logo Djarum yang menempel pada baju peserta, meskipun itu hanya pada nomor punggung. Berdasarkan pemantauan Suara Pembaruan di lokasi audisi, pemasangan logo Djarum sebagai penyelenggara audisi ini tidak lagi masif baik berupa spanduk, banner atau pun baliho mulai dari pintu masuk GOR sampai ke area audisi. Selain itu nama audisi yang dulunya berbunyi “Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis Djarum 2019”, kini tidak lagi mencantumkan nama Djarum. Sayangnya, logo Djarum masih ditemukan pada nomor punggung peserta, kaos panitia penyelenggara, dan di beberapa papan sponsor dalam area audisi.

Audisi PB Djarum

Hal ini pun diakui Komisi Perlindungan Anak (KPAI) yang melakukan pemantauan langsung terhadap penyelenggaraan audisi. Komisioner Penanggungjawab Bidang Kesehatan dan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif KPAI, Sitty Hikmawati, mengatakan, meski secara volume promosi melalui audisi mulai berkurang, namun Djarum tetap tidak patuh aturan. Mulai dari UU Kesehatan, UU Perlindungan Anak, dan PP 109/2012 yang intinya melarang penggunaan logo atau merek produk tembakau serta tidak melibatkan anak-anak.

Pihak Djarum dinilai belum memiliki niat baik untuk menghindarkan anak dari paparan iklan dan promosi rokok. Faktanya, aktivitas audisi masih menggunakan anak sebagai promosi brand image Djarum. Bermodalkan kaus yang dibagikan secara gratis, merek Djarum dipromosikan cuma-cuma.

“Inilah yang kami sebut sebagai promosi terselubung, dan anak-anak dimanfaatkan tanpa sepengetahuan mereka. Anak yang mestinya dilindungi dari zat adiktif rokok karena berbahaya malah dijadikan alat peraga untuk promosi merek rokok,” kata Sitty kepada SP di Purwokerto, Jawa Tengah, Minggu (8/9/2019).

Menurut Sitty, dalam pertemuan KPAI, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Djarum Foundation, dan empat kota penyelenggara audisi bulutangkis 4 September 2019 dengan menko polhukam, Djarum Foundation meminta tetap menggunakan logo dan brand image Djarum untuk tahun ini. Alasannya karena tahun depan mereka akan ganti format tanpa logo dan brand image. Mereka juga menawarkan agar panitia penyelenggara tetap menggunaan kaos bertuliskan Djarum, dan penggunaan tulisan logo Djarum diturunkan sampai 50 persen. Namun permintaan tersebut tidak disetujui oleh KPAI dan Kementerian PPPA.

Menurut Sitty, menggunakan brand image seperti logo pada kaus yang dipakai anak-anak akan diinterpretasikan sebagai merek rokok. Anak-anak yang polos dikondisikan bahwa rokok adalah produk yang baik. Rokok dicitrakan sebagai produk normal, padahal mengandung nikotin dan zat berbahaya lain. Menurut Sitty, tinggal tunggu waktu sekitar empat tahun kemudian anak-anak begitu dikenalkan dengan produk rokok akan menganggapnya sebagai produk yang baik atau normal. Proses ini akan mendorong niat anak untuk mencoba merokok.



Sumber: Suara Pembaruan