SBY: Lampu Kuning dalam Kemajemukan Bangsa Indonesia

SBY: Lampu Kuning dalam Kemajemukan Bangsa Indonesia
Warga semarak menonton Pidato Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pidato Kontemplasi di kediamannya di Puri Cikeas, Gunungputri, Kabupaten Bogor, Senin (9/9/2019). ( Foto: beritasatu.com / vento saudale )
Vento Saudale / WM Senin, 9 September 2019 | 20:42 WIB

 

Bogor, Beritasatu.com - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut lampu kuning terkait persatuan dan kesatuan di Indonesia. SBY menilai, dalam satu tahun terakhir lebih kuat permusuhan daripada kasih sayang dan berakibat rusaknya kemajemukan.

"Terus terang, tahun-tahun terakhir ini kasih sayang dan rasa persaudaraan ini melemah, sementara kebencian, jarak dan permusuhan diantara komponen bangsa yang berbeda identias menguat. Awas, Ini lampu kuning. Ini sebuah fenomena dan arus buruk yang membahayakan kemajemukan masyarakat dan bangsa kita," tutur SBY dalam Pidato Malam Kontemplasi, di kediamannya, di Puri Cikeas, Gunungputri, Bogor, Senin (9/9/2019).

Presiden ke 6 RI ini melanjutkan, Indonesia merupakan negara majemuk dari segi identitas, misalnya, berbeda agama, suku, etnis dan kedaerahan. Juga mejemuk dari segi paham dan aliran, baik politik maupun ideologi, serta dari segi strata sosial-ekonomi

Sejarah menunjukkan, bahwa kemajemukan ini di satu sisi adalah anugerah kekayaan dan kekuatan. Namun, di sisi lain adalah kerawanan, sumber konflik, dan juga kelemahan.

"Karenanya, tak ada resep ajaib untuk menjaga persatuan dan kerukunan, kecuali secara sadar kita memperkuat nilai fundamental dan kemudian menjalankannya dengan sungguh-sungguh," katanya.

SBY menyebut resep menjaga keutuhan negeri, pertama adalah kasih sayang (love) di antara kita, dan bukan kebencian (hatred). Kedua adalah rasa persaudaraan (brotherhood) yang kuat di antara kita, sesama bangsa Indonesia,dan bukan membangun jarak dan permusuhan (hostility) diantara masyarakat yang berbeda identitas.

"Kita semua, harus mengambil tanggung jawab untuk menghentikan dan membalikkan fenomena dan arus yang salah ini, Untuk selanjutnya kembali ke arah yang benar," papar SBY.



Sumber: BeritaSatu.com