Jokowi Diganjar Penghargaan dari Organisasi Insinyur ASEAN, Ini Alasannya

Jokowi Diganjar Penghargaan dari Organisasi Insinyur ASEAN, Ini Alasannya
Konferensi pers penyelenggaraan Konferensi Organisasi Insinyur se-ASEAN ke-37 (CAFEO37), Jakarta, 9 September 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / JAS Senin, 9 September 2019 | 20:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Organisasi insinyur dari 10 negara ASEAN yang tergabung dalam ASEAN Federation of Engineering Organizations (AFEO) telah bersepakat untuk memberi penghargaan The AFEO Distinguished Honorary Patron Award kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Penghargaan ini rencananya akan diberikan bersamaan dengan terselenggaranya Konferensi Organisasi Insinyur se-ASEAN ke-37 (CAFEO37) di Jakarta pada 11-14 September 2019 mendatang.

Chairman AFEO yang juga menjabat Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Heru Dewanto mengungkapkan, penghargaan ini diberikan kepada Jokowi atas prestasinya membangun infrastruktur dalam lima tahun terakhir.

Penghargaan ini hanya diberikan kepada satu orang penerima di setiap perhelatan Konferensi Organisasi Insinyur se-ASEAN yang diselenggarakan setahun sekali. Penerimanya adalah tingkat kepala negara dan/atau kepala pemerintahan sebuah negara seperti raja, presiden, atau perdana menteri.

“Penghargaan ini diberikan karena prestasi Bapak Jokowi di lima tahun terakhir dalam membangun infrastruktur. Bahkan pembangunan yang dilakukannya ini telah melampaui pencapaian negara-negara ASEAN lainnya,” kata Heru Dewanto, di acara konferensi pers penyelenggaraan CAFEO37, di Jakarta, Senin (9/9/2019).

Dikatakan Heru, pembangunan infrastruktur yang dilakukan Jokowi ini juga telah memberikan dampak yang besar bagi Indonesia dan juga masyarakatnya. Hal ini terlihat dari beberapa peningkatan indikator, antara lain easy of doing business (kemudahan berbisnis) dan juga infrastructure index (indeks infrastruktur), sehingga ikut mendorong peningkatan competitiveness index.

CAFE037, menurut Heru, Iebih dari sekadar acara seremoni tahunan. Konferensi kali ini juga menjadi etalase kebanggaan yang menampilkan pencapaian pembangunan Indonesia kepada dunia internasional. “Karya-karya terbaik insinyur Indonesia akan ditampilkan di CAFE037,” kata Heru.

Tahun 2019 juga menjadi tahun penting bagi insinyur Indonesia. Selain menjadi tuan rumah CAFEO, tahun ini menjadi momentum PII memulai langkah pertama menuju era transformasi keinsinyuran setelah disahkannya UU Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran dan PP Nomor 25 Tahun 2019 yang merupakan turunan dari undang-undang tersebut.

“Undang-undang dan PP ini membuka horison baru dalam penyelenggaraan keinsinyuran di Indonesia. Inti dari aturan ini bahwa hanya insinyur atau mereka yang sudah dinyatakan sebagai insinyur yang dapat melakukan praktek keinsinyuran. Di dunia, ini bukan hal yang baru. Sama saja seperti Undang-Undang Prakter Kedokteran. Tetapi di Indonesia, hal ini bisa dikatakan terlambat. Dengan disahkannya UU Keinsinyuran, kini PII sebagai organisasi profesi semakin kuat,” ujar Heru.

Selain itu, PII juga telah mulai bekerja untuk mencetak insinyur-insinyur baru Tanah Air. Heru menambahkan, profesi insinyur kini tidak lagi menjadi monopoli mereka yang bergelar sarjana teknik. Lulusan D4 keteknikan pun bisa menyandang gelar insinyur profesional, bahkan diakui dunia internasional.

“Sertifikasi yang dijalankan PII sudah disetarakan di tingkat ASEAN dan Asia Pasifik. Artinya mereka yang sudah mendapatkan sertifikat insinyur profesional madya dianggap setara dengan insinyur di ASEAN dan seluruh Negara Asia Pasifik,” kata Heru.



Sumber: BeritaSatu.com