Tokoh Lintas Agama Serukan Perdamaian untuk Papua

Tokoh Lintas Agama Serukan Perdamaian untuk Papua
Tokoh lintas agama yang terdiri dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama(PBNU), Persatuan Gereja-gereja Indonesia(PGI), Konferensi Waligereja Indonesia(KWI), Amnesty International, serta beberapa tokoh lintas agama lainnya hadir untuk menyerukan perdamaian untuk Papua di Gedung PBNU, Jakarta, Senin, 9 September 2019. ( Foto: SP/Fatima Bona )
Maria Fatima Bona / CAH Selasa, 10 September 2019 | 07:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tokoh lintas agama yang terdiri dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama(PBNU), Persatuan Gereja-gereja Indonesia(PGI), Konferensi Waligereja Indonesia(KWI), Amnesty International, serta beberapa tokoh lintas agama lainnya hadir untuk menyerukan perdamaian untuk Papua di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (9/9/2019) petang.

Mereka menyampaikan keprihatinan atas terjadinya serangkaian aksi kekerasan dan jatuhnya korban masyarakat dan aparat di Papua. Para tokoh agama itu meminta pemerintah dan aparat penegak hukum untuk lebih berhati-hati dalam mengambil langkah dan tindakan agar tidak menimbulkan gejolak dan permasalahan baru.

“Alhamdulillah semua tokoh lintas agama juga aktvis HAM berkumpul di tempat ini (kantor PBNU,red) tanpa ada yang mengatur atau menyuruh dengan kemauan masing-masing berkumpul di PBNU berangkat dari rasa prihatin, rasa luka yang sangat mendalam akan kejadian yang menimpa masyarakat Papua,” kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj.

Said menyebutkan, di negara yang sudah 74 tahun membangun kebhinekaan berdasarkan Pancasila dengan mengutamakan rasa kemanusiaan seharusnya hal semacam ini tidak terjadi. Oleh karena itu, Said mengimbau semua pihak untuk mendinginkan suasana jangan memperkeruh suasana. Pasalnya, konflik yang terjadi di Papua sama sekali tidak ada hubungan dengan konflik agama.

“Jadi tidak boleh kita bicara misalnya antara Islam dan non Muslim enggak ada kaitannya,” ujarnya.

Said juga mengatakan, tokoh lintas agama juga meminta pemerintah profesional menangani masalah Papua. Dalam hal ini, harus utamakan dialog persuasi rasa kemanusiaan jangan dengan pendekatan keamanan dan kekerasan agar tidak menimbulkan masalah baru.

“Kami, sejumlah lembaga dan perorangan yang memiliki perhatian terhadap situasi sosial-politik di tanah Papua menyampaikan keprihatinan atas terjadinya serangkaian aksi kekerasan dan jatuhnya korban masyarakat dan aparat. Atas nama rasa kemanusiaan dan penghormatan terhadap martabat serta hak asasi manusia, kami meminta pemerintah dan aparat penegak hukum untuk lebih berhati-hati dalam mengambil langkah dan tindakan agar tidak menimbulkan gejolak dan permasalahan baru,” tegasnya.

Said menambahkan, pemerintah harus membangun kembali jalinan dialog yang sudah dibangun sejak lama dan diinisasi oleh Presiden RI-4, KH. Abdurrahman Wahid(Gusdur), yang salah satunya mengembalikan nama Papua dari Irian Jaya, harus terus dirawat dan dijadikan bekal serta komitmen kebangsaan bersama menuju terciptanya masyarakat yang adil dan beradab. “Papua adalah kita dan kita adalah manusia-manusia yang memiliki harkat dan martabat,” ucapnya.

Perlu diketahui, lima seruan tokoh lintas agama untuk Papua damai dibacakan bergantian oleh seluruh tokoh yang hadir. Ada pun tokoh yang hadir dalam pertemuan itu adalah; Pdt Gomar Gultom (PGI), Romo Heri Wibowo (KWI), Romo Franz Magnis Suseno, Ronald Rischardt (PGI Biro Papua), Antie Sulaiman (UKI), Alissa Wahid (GNI), dan Usman Hamid (Amnesty International).



Sumber: Suara Pembaruan