Balita Tewas Dianiaya Ayah Tirinya, Sri Astuti: Akil Alami Penganiayaan Sejak 2018

Balita Tewas Dianiaya Ayah Tirinya, Sri Astuti: Akil Alami Penganiayaan Sejak 2018
Sri Astuti, ibu kandung Akil, mengaku melihat sendiri anaknya dikuburkan suaminya setelah disiksa hingga tewas di rumah mereka Dusun Batu III, Desa Guru Ponco Warno, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, Sumut. ( Foto: Istimewa )
Arnold H Sianturi / JEM Selasa, 10 September 2019 | 15:20 WIB

Langkat, Beritasatu.com - Tragedi penyiksaan yang dialami Muhammad Ibrahim alias Akil hingga menewaskan balita berusia 2 tahun ini, menyisakan cerita yang sangat memilukan. Penyiksaan yang dilakukan ayah tiri korban, Riki Ramadhan Sitepu (30), ternyata sudah berlangsung lama. Peristiwa ini terjadi di Dusun Batu III, Desa Guru Ponco Warno, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, Sumut.

Sri Astuti (28), ibu kandung balita malang itu menceritakan, tindakan penganiayaan oleh suaminya itu sudah sejak awal ia menikah lagi dengan Riki tahun 2018.” Awalnya dia mencubit dan menjewer telinga anak saya. Kemudian, anak itu tanpa mengenakan pakaian dijemur di luar rumah sampai lewat tengah hari,” tutur Sri kepada polisi yang memeriksanya di Polres Langkat, baru - baru ini.

Sri melanjutkan, Akil sampai lemas saat dihukum oleh Riki Ramadhan. “Akil hanya menangis tak berani masu masuk rumah. Akil boleh masuk rumah setelah menjalani hukuman itupun kalau diizinkan ayah tirinya,” kata Sri.

Di dalam rumah pun, Akil kerap mendapatkan perlakuan kekerasan. Ayah tirinya mencubit atau menjewer telinga Akil sampai balita malang itu menangis sejadi-jadinya. Akil akan terdiam setelah dibentak keras oleh ayah tirinya. Sri tak berani membela anak kandungnya karena takut dimarahi sang suami.

Menurut Sri, suaminya bekerja sebagai pengumpul tandan buah kelapa sawit (TBS). Sampai kemudian pada Selasa (27/8) lalu, Riki dilanda marah besar kepada Akil. Pasalnya, Riki baru pulang dari bekerja di kebun sawit, Riki mendapati dalam rumah berantakan. Pakaian berserakan. Saat itu, Sri Astuti belum merapikan dalam rumah. Riki kemudian berteriak memanggil anak tirinya, dan melampiaskan kemarahannya. “Riki kembali memukul Akil, bahkan menyundut api rokok ke anak saya," ungkap Sri.

Tak hanya itu, Riki mencekik kuat leher Akil sambil mengangkatnya keluar rumah. Setelah itu, Akil dibanting ke tanah, bahkan ditendang sangat kuat. Bantingan dan tendangan itu pun membuat tulang rusuk bayi itu patah (hasil visum). Seketika Akil tidak bersuara lagi. Akhirnya, Sri memohon agar penganiayan itu dihentikan.

Riki kemudian mengambil sebuah karung dari dalam rumah. Saat itu, belum ada kepastian Akil sudah tiada. Riki memasukkan Akil ke dalam karung, kemudian digantung di belakang gubuk rumahnya. Seelang satu hari, persisnya 28 Agustus 2019, Riki mengajak Sri Astuti ke lereng perbukitan.

Mereka membawa serta karung berisikan balita itu. Riki juga membawa cangkul. Jenazah Akil dikuburkan secara diam-diam. Saat itu, tak ada warga yang mengetahui kejadian itu.

Namun sepekan kemudian, warga mencium aroma tidak sedap. Warga menemukan sebuah gundukan yang menjadi sumber bau tersebut. Mereka tidak berani membongkar gundukan. Warga melapor ke polisi, Rabu (4/9). Kasat Reskrim Polres Langkat AKP Teuku Fathir Mustafa menyampaikan, pihaknya langsung menurunkan tim forensik dan mengevakuasi jenazah korban ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumut di Medan.

Berdasarkan hasil visum ahli forensik terungkap sang balita tewas akibat disiksa termasuk luka patah tulang rusuk, sundutan api rokok dan bekas cekikan.

Sementara Riki dan Akil ditangkap dari kawasan Jalan Binjai - Bukit Lawang, Langkat. Saat itu, pasangan ini diduga hendak melarikan diri. “Keduanya mengakui perbuatannya. Mereka masih menjalani pemeriksaan. Kita dalami penyebab penganiayaan," jelasnya.



Sumber: Suara Pembaruan