Polda Kalbar Tangani 50 Kasus Karhutla, Dua Kasus Libatkan Korporasi

Polda Kalbar Tangani 50 Kasus Karhutla, Dua Kasus Libatkan  Korporasi
Kabut asap tebal masih menyelimuti Kota Pontianak, Kalbar, Rabu (11/9/2019) pagi. ( Foto: Beritasatu Photo / Sahat Oloan Saragih )
Sahat Oloan Saragih / RSAT Rabu, 11 September 2019 | 11:44 WIB

Pontianak, Beritasatu.com - Kapolda Kalbar Irjen Pol Didi Haryono mengatakan, hingga saat ini jajarannya sedang menangani 50 kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalbar, dengan 58 orang yang diduga sebagai pelaku. Dari 50 kasus itu, dua kasus di antaranya melibatkan korporasi atau perusahaan.

“Dari 50 kasus itu, tersangkanya 58 orang yang diduga melakukan pembakaran hutan dan lahan. Sebagian besar dari mereka yang menjadi tersangka didominasi oleh perorangan,” ujar Kapolda Didi Haryono kepada wartawan saat jumpa pers masalah Karhutla di Kalbar, Selasa (10/9/10).

Didi Haryono mengatakan saat ini para pelaku ini diamankan di Mapolda Kalbar untuk menjalani proses hukum. Sementara terhadap tersangka akan dijerat dengan tiga UU, yaitu UU Lingkungan Hidup, Perkebunan, dan Kehutanan.

Para pelaku Karhutla dapat dihukum paling rendah 3 tahun penjara dan denda Rp 3 miliar, sementara paling tinggi 10 tahun penjara dan denda Rp10 miliar. Selanjutnya saat ini jajaran Polda Kalbar masih melakukan penyelidikan, karena masih ada satu lagi korporasi yang juga diduga sebagai pelaku Karhutla.

Didi menambahkan, pemerintah provinsi sudah mengeluarkan kewenangannya yaitu melalui Peraturan Gubernur (Pergub) yang menyatakan apa bila perusahaan perkebunan lalai dalam menyingkapi kebakaran di wilayah perkebunannya, maka akan mendapat sanksi akan dicabut izinnya selama tiga tahun. Bahkan , jika kebakaran itu dilakukan dengan sengaja maka akan dicabut izinnya lima tahun.

Dijelaskan dampak Karhutla ini sangat merugikan kesehatan dan perputaran perekonomian. Bahkan sudah mengganggu penerbangan di Bandara Putussibau dan Bandara Supadio Pontianak, di mana pesawat sempat tidak bisa mendarat akibat kabut yang mengganggu jarak pandang.

Sekarang ini jajaran Polri, TNI dan pemerintah provinsi dan daerah sudah bersinergi dalam melaksanakan upaya penanganan Karhutla di Kalbar. Baik dari pencegahan dan penegakan hukum serta sosialisasi kepada masyarakat.

Titik Api
Sementara itu Tikno bagian Prakirawan Badan Metrologi Klimatologi dan Geo Fisika (BMKG) Bandara Supadio Pontianak kepada wartawan, Rabu (11/9/2019) mengatakan, sesuai data terakhir jumlah titik api di wilayah Kalbar masih mencapai 876 titik. Sementara hujan secara merata diperkirakan baru akan terjadi pada akhir September 2019.

Dikatakan jumlah titik api itu paling banyak yakni 600 titik terdapat di wilayah Kabupaten Ketapang, sedangkan sisanya 352 titik tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota di Kalbar.

Sementara jarak pandang di pagi hari rata rata 1- 3 km dan jarak pandang minimum untuk pesawat yaitu 800 m. "Pada kondisi seperti ini sebenarnya pesawat masih bisa mendarat namun tergantung kepada pilotnya," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan