Bangun Kembali Persekutuan Demi Terwujudnya Damai di Tanah Papua

Bangun Kembali Persekutuan Demi Terwujudnya Damai di Tanah Papua
Gedung Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) berada di Jalan Raya Abepura, Papua, dibakar massa.
Robert Isidorus / JEM Rabu, 11 September 2019 | 15:09 WIB

Jayapura, Beritasatu.com - Perlakuan diskriminasi dan tindakan rasial yang menimpa mahasiswa Papua yang sedang menjalani studi di Pulau Jawa, telah menimbulkan reaksi keras di Tanah Papua. Rekasi berupa aksi-aksi unjuk-rasa disertai amukan massa yang merusak dan menghancurkan berbagai fasilitas umum telah menimbulkan berbagai ketegangan dan membuat  kedamaian  masyarakat terkoyak.

Uskup Jayapura, Papua, Leo Laba Ladjar mengatakan, para pemimpin agama, adat, dan tokoh masyarakat sudah berusaha memulihkan suasana damai di Tanah Papua dengan memberikan himbauan, seruan bahkan kutukan agar kekerasan dihentikan.

"Semua seruan itu tentu perlu, tetapi tidaklah cukup. Perlu ada aktivitas lanjutn yang lebih menyentuh persoalan dalam masyarakat," kata Uskup Leo Laba Ladjar OFM dalam rilisnya yang diterima Beritasatu.com, Rabu (11/9/2019) siang.

Oleh karena itu, lanjut Leo Laba Ladjar, pihaknya selaku Uskup Jayapura bersama pastor-pastor paroki di Dekanat Jayapura, mengajak para tokoh membangun persekutuan dalam kehidupan umat. "Kami membarui komitmen melaksanakan misi Keuskupan, membangun persekutuan persaudaraan mulai dari komunitas-komunitas Basis Gerejawi dan meluas menjangkau umat seluruh paroki serta seluruh masyarakat,” kata Leo Laba Ladjar.

Leo mengungkapkan, berbagai unjuk rasa menolak rasisme di kota-kota di Papua banyak berujung kebrutalan dan tindakan anarkis serta main hakim sendiri. Seseorang atau sekelompok orang yang dilanggar hak-haknya cenderung langsung mengadili dan menghukum pihak yang lain dengan hukuman yang seringkali lebih berat daripada tuntutan hukum sipil. Akibatnya balas-membalas tidak terhindari.

"Juga hal ini akhir-akhirnya menyentuh dan menantang kita sebagai pemberita Injil kedamaian dan keadilan," katanya.

Lanjut Uskup, korban kerusuhan di Jayapura banyak sekali karena kehilangan harta benda dan usaha dagangnya yang menjadi sumber hidupnya hancur akibat diamuk massa.

Polarisasi antara orang asli Papua (OAP) dan non-OAP terjadi. Tindakan diskriminasi rasis dan reaksi antirasisme melebar ke ketegangan antara berbagai kelompok dalam masyarakat.

"Ini tantangan bagi kita untuk  mewujudkan visi-misi membangun persekutuan yang khas di Papua tetapi yang sekaligus terbuka untuk nilai-nilai budaya yang umum," kata Leo.

Karena itu, kata Leo, pihaknya mau membarui komitmen untuk mewujudkan arah-dasar membangun gereja sebagai pusat persekutuan. "Kita membangun persekutuan dalam umat, karena kesatuan iman akan Yesus Kristus, Damai Sejahtera kita, yang menyatukan semua orang dari pelbagai kelompok suku, golongan, ras dan budaya serta status sosial," katanya.

Keuskupan Jayapura, lanjutnya, akan terus mengembangkan persekutuan persaudaaraan secara nyata dan dinamis dalam Komunitas Basis Gerejawi (Kombas) yang menghimpun keluarga-keluarga dari berbagai suku, latar belakang daerah dan sosial budaya.

"Kita mengobarkan semangat misioner kombas-kombas agar menjadi komunitas yang terbuka untuk bergaul dan bersahabat dengan semua tetangga, membantu siapapun yang terkena bencana, dan bekerja sama dengan warga di satu rukun-tetangga dan pemerintah setempat untuk memajukan keamanan lingkungan," katanya.

Membangun kerukunan umat beragama melalui berbagai bentuk hubungan antaragama dan berpartisipasi aktif dalam persekutuan gereja-gereja  dan dalam forum kerukunan umat beragama (FKUB).

"Kita bersatu dengan semua gereja dan agama dalam doa dan puasa bersama dengan intensi terwujudnya Papua Tanah Damai," kata Leo.

Pihaknya menyerukan kepada semua pemegang kekuasaan baik pemerintah sipil maupun militer dan polisi, kejaksaan dan pengadilan, agar semuanya mendukung usaha bersama dalam membangun damai, dengan menjalankan tugas masing-masing dengan hati bersih, jujur dan adil, demi kebaikan masyarakat seluruhnya.

"Kami menyerukan kepada semua pihak agar menolak rasisme dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang memecahbelah masyarakat, seperti asli-pendatang, pantai-gunung, suku dan agama," ujar Leo.

Pihaknya juga menyatakan keprihatinan kepada keluarga yang menjadi korban jiwa, luka-luka, harta benda juga mendukung semua pihak meringankan beban dan memberi perlindungan bagi mereka yang mencari kebenaran dan menegakkan keadilan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan itu.

 

 



Sumber: Suara Pembaruan