Alexander Marwata Mengaku Kaget Ada Konpres Pelanggaran Etik Berat Firli Bahuri

Alexander Marwata Mengaku Kaget Ada Konpres Pelanggaran Etik Berat Firli Bahuri
Penyidik KPK bersama Wakil Ketua KPK Alexander Marwata (kanan), menunjukan bukti hasil OTT (Operasi Tangkap Tangan), saat memberikan keterangan pers terkait OTT dugaan suap Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, di gedung KPK, Jakarta, Rabu 28 November 2018. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao / SP/Joanito De Saojoao )
Yeremia Sukoyo / WM Kamis, 12 September 2019 | 13:15 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi III DPR kembali melakukan uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) kepada Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Gedung Parlemen RI, Jakarta, Kamis (12/9). Calon petahana Alexander Marwata mendapat kesempatan mengikuti uji kelayakan dan kepatutan.

Dalam uji kepatutan dan kelayakan, Anggota DPR Komisi III Masinton Pasaribu mempertanyakan konferensi pers yang dilakukan KPK terkait pelanggaran etik berat Anggota Polri, Firli Bahuri, yang digelar Rabu (12/9), di Kantor KPK, Jakarta.

Menjawab pertanyaan tersebut, Alexander Marwata menegaskan, dirinya sendiri mengaku cukup kaget mendengar adanya konferensi pers yang digelar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dan Dewan Penasihat KPK Mohammad Tsani Annafari itu.

"Setiap kali Jubir mau melakukan Konpres, misalnya pemumuman tersangka, kami tahu subtansinya apa. Hanya kemarin saya sendiri yang agak kaget ada press conference seperti itu," kata Alexander Marwata.

Dalam kesempatan itu, Alexander Marwata juga mengaku belum sempat mengecek informasi terkait konferensi pers pelanggaran berat Firli yang ada di grup Whatsapp Humas KPK. "Saya memang gak setiap saat mengecek WA. memang kami punya grup humas pimpinan, apakah itu sudah diupload, saya tidak mengecek itu," ujarnya.

Sebelumnya, KPK menyatakan mantan Deputi Penindakan Firli Bahuri terbukti melakukan dugaan pelanggaran berat. Kesimpulan itu diperoleh setelah Direktorat Pengawasan Internal KPK merampungkan pemeriksaan yang dilakukan sejak 21 September 2018.

"Perlu kami sampaikan, hasil pemeriksaan Direktorat Pengawasan Internal adalah terdapat dugaan pelanggaran berat," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat konferensi pers, di Kantornya, Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Dewan Penasihat KPK Mohammad Tsani Annafari menjelaskan, sejumlah temuan pelanggaran etik yang dilakukan oleh Firli. Pertama, pertemuan dengan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang yang dilakukan sebanyak dua kali. Padahal, KPK sedang melakukan penyelidikan dugaan korupsi terkait kepemilikan saham pemerintah daerah dalam PT Newmont pada 2009-2016.

Pertemuan itu terjadi pada 12 Mei 2018 dalam acara harlah GP Ansor ke-84 dan launching penanaman jagung 100.000 hektare di Bonder Lombok Tengah. Tsani mengatakan, Firli berangkat tanpa surat tugas dan menggunakan uang pribadi.

Pelanggaran etik selanjutnya adalah ketika Firli bertemu pejabat BPK Bahrullah Akbar di Gedung KPK. Saat itu, Bahrullah akan menjalani pemeriksaan dalam kapasitas sebagai saksi untuk tersangka Yaya Purnomo perihal kasus suap dana perimbangan. Tsani mengungkapkan Firli didampingi Kabag Pengamanan menjemput langsung Bahrullah di lobi Gedung KPK.



Sumber: Suara Pembaruan