PGI: Gereja Berduka dengan Kepergian Habibie

PGI: Gereja Berduka dengan Kepergian Habibie
Sejumlah warga berduyun-duyun ber-swafoto usai upacara militer pemakaman presiden ke 3 B J. Habibie di Taman Makam Pahlawan Utama Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis 12 September 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao )
Maria Fatima Bona / IDS Rabu, 11 September 2019 | 20:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Sekretaris Umum Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Gomar Gultom menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya Presiden Indonesia ke-3, BJ Habibie.

"Beliau adalah seorang negarawan sejati, yang telah meletakkan dasar-dasar demokrasi di Indonesia. Walau masa kepresidenannya sangat singkat, namun pada masanya banyak dicabut regulasi yang menghambat proses demokrasi," ujar Gomar kepada SP, Rabu (11/9).

Gomar juga menambahkan, Habibie mendorong berbagai cara menuju kebebasan pers, pembebasan tapol/napol Orba, serta dialog awal masalah Papua.

"Beliau satu-satunya pemimpin bangsa Indonesia yang pada 1998 percaya pada laporan masyarakat antikekerasan tentang adanya kasus-kasus kekerasan seksual terhadap perempuan etnis Tionghoa selama kerusuhan Mei 1998. Atas nama pemerintah, sebagai Presiden RI, beliau kemudian minta maaf dan meneken Keppres pendirian Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, sebagai salah satu bentuk pengakuan negara terhadap peristiwa Kekerasan Seksual Mei 1998, sekaligus sebagai wujud tanggung jawab negara mencegah segala bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan," ucapnya.

Gomar juga menuturkan, jasa Habibie juga sangat besar dalam kemajuan bidang dirgantara Indonesia, serta kemajuan iptek lainnya. Selain itu, meskipun sudah tidak menjabat sebagai presiden, ia tetap menunjukkan pengabdiannya yang tulus bagi bangsa.

"Dalam berbagai kontestasi pilkada maupun pilpres, kehadirannya selalu menentramkan semua pihak. Beliau seorang yang non-partisan sehingga kehadirannya diterima oleh semua pihak. Kita sungguh kehilangan beliau. Semoga amal baktinya diterima di sisi Tuhan," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan