Peran Lesikograf Penting untuk Pelestarian Bahasa Daerah

Peran Lesikograf Penting untuk Pelestarian Bahasa Daerah
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat menjadi pembicara pada Seminar Leksikografi Indonesia 2019, di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis, 12 September 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Maria Fatima Bona )
Maria Fatima Bona / JAS Jumat, 13 September 2019 | 13:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, Indonesia memiliki banyak sekali bahasa yang bisa diratifikasi. Sayangnya, selama ini baru 668 bahasa, padahal jumlah tersebut belum sampai separuh.

Oleh karena itu masih perlu kerja keras dari para leksikograf untuk bisa mengumpulkan khasanah kekayaan tak benda, terutama yang berkaitan dengan kebahasaan.

Muhadjir menyebutkan, dalam mendukung pelestarian bahasa dan peningkatan literasi, kamus memiliki peranan penting sebagai penyedia informasi dan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, peningkatan kualitas dan kuantitas kamus merupakan langkah strategis dalam mendukung gerakan literasi yang akan berujung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Peranan para leksikograf menjadi sangat penting untuk Indonesia. Saya berharap ada perencanaan yang sungguh-sungguh untuk menyiapkan tenaga-tenaga ahli di bidang leksikografi ini terutama untuk mengimbangi atau mempercepat kompilasi dan kodifikasi terhadap bahasa-bahasa yang sekarang masih menjadi bahasa lisan di kalangan masyarakat kita,” kata mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini pada Seminar Leksikografi Indonesia 2019, di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (12/9/2019).

Muhadjir menambahkan, kemajuan teknologi informasi saat ini harus disikapi para leksikograf dengan bijaksana. Pasalnya, tantangan yang lebih serius sebetulnya adalah mulai bergesernya dunia lisan menjadi dunia tulisan.

Dalam dunia tulisan ditemukan teknologi yang sangat modern berupa kertas, akan tetapi sekarang kertas sudah tidak modern lagi dan mulai ditinggalkan menjadi dunia elektronik, dunia siber, dunia virtual.

“Hal ini tentu saja harus menjadi bahan diskusi para leksikograf, bagaimana menghadapi tantangan terbaru saat ini. Sekarang ini untuk mengakses kosakata tidak sesulit dahulu yang memerlukan kamus tebal tapi cukup membawa satu ponsel bisa menjelajah dalam waktu yang singkat dan bisa memeriksa kembali dari berbagai sumber,” ucap Muhadjir.

Dia juga menyebutkan, kemajuan teknologi informasi di satu sisi memang bagus. Namun di sisi lain, secara mental membuat manusia menjadi ketergantungan.

“Jadi sebetulnya kemudahan itu tidak selalu baik untuk perkembangan bangsa. Sesuatu kalau tidak fungsional akan hilang tapi kalau fungsional maka akan terus bertahan," papar Mendikbud.

Tak Terlalu Berfungsi

"Sekarang ini otak atau ingatan kita sudah tidak terlalu berfungsi karena ingatan kita sudah diambil alih oleh komputer. Kecerdasan kita juga tidak terlalu berfungsi karena sudah diambil oleh kecerdasan buatan yang disebut artificial intelligence," imbuhnya.

"Sekarang fungsi otak kita hanya untuk meng-coding dan mencari kata kunci karena untuk kata lengkapnya sudah disediakan di dunia maya dalam bentuk komputasi awan atau cloud computing yang daya tampungnya tak terbatas. Kita punya Kamus Bahasa Indonesia yang tebal dan kemudian masuk ke elektronik dalam bentuk kamus daring. Hal ini luar biasa dan perkembangan ini merupakan tantangan bagi para leksikograf,” terang Muhadjir

Kendati demikian, Muhadjir menuturkan, saat ini dunia industri kreatif sangat didorong untuk maju. Di satu sisi ada industri massal yang berbasis pada industri 4.0 tetapi tetap ada kebutuhan akan karya kreatif. Pasalnya, setiap orang ingin memiliki keunikan dan eksklusivitas masing-masing dan ini merupakan pasar.

“Menurut saya, leksikograf adalah termasuk pekerjaan kreatif yang tidak mungkin diganti oleh kecerdasan buatan dan berbagai macam teknologi pendukungnya. Namun mau tidak mau harus bersinggungan dengan teknologi yang baru," papar Muhadjir.

"Mudah-mudahan ini bisa memberi sedikit wawasan untuk dijadikan bahan renungan para leksikograf, terutama yang muda-muda karena masa depan leksikografi ada di tangan yang muda-muda ini. Tentu saja yang senior harus menularkan pengalaman yang telah didapat selama ini dan yang muda harus dapat meneruskan,” ucapnya.

Muhadjir juga mengatakan, perlu adanya upaya untuk menarik bahasa lokal atau minor untuk menjadi bahasa daerah. “Kemarin ada seminar di Papua karena bahasa yang paling banyak ada di wilayah timur yang belum terindentifikasi dan terkompilasi. Untuk menghindari kepunahan harus ada upaya kita untuk menarik ke tingkat yang lebih tinggi, dari bahasa-bahasa minor kalau bisa menjadi bahasa daerah sehingga memperkaya bahasa daerah," papar Muhadjir.

Lebih lanjut, dia menyebutkan, bahasa lokal itu sangat terbatas kosakatanya dan itu harus diselamatkan dengan cara menarik menjadi bahasa daerah karena sebenarnya pertumbuhan semua bahasa daerah awalnya demikian. "Dulu bahasa Jawa sebelum menjadi bahasa Jawa sebetulnya juga ada bahasa lokal yang kemudian kita kenal sebagai dialek,” terangnya.

Butuh Leksikograf Andal

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, Dadang Sunendar, mengatakan bahwa Indonesia memiliki bahasa negara yang hebat dan banyak sekali bahasa daerah. Oleh karena itu, memerlukan banyak sekali leksikograf andal di Tanah Air, karena jumlah leksikograf di Indonesia ini belum cukup banyak dibandingkan dengan jumlah bahasa yang harus dikembangkan.

“Saya pikir Seminar Leksikografi Indonesia ini merupakan salah satu upaya kita untuk berdiskusi dan meningkatkan kemampuan para leksikograf di Tanah Air. Jadi, kita juga mengundang masyarakat luas ikut serta dalam kegiatan ini," papar Dadang.

"Tujuannya yaitu ingin memperkenalkan kepada masyarakat bahwa ada dunia leksikografi yang sangat menarik. Sebuah profesi yang biasanya hanya dilakukan oleh leksikograf namun sekarang juga dilakukan oleh masyarakat. Melalui KBBI daring misalnya, setiap orang juga bisa langsung menjadi pekamus karena dia bisa mengusulkan, memberikan catatan, dan seterusnya,” tutur Dadang.

Selanjutnya, kata Dadang, tidak lama lagi Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan akan meluncurkan kamus Braille elektronik yang diberi nama KBBI Disnet.

“KBBI Disnet merupakan program baru kami yaitu KBBI Braille yang dikembangkan, karena versi cetaknya sudah diluncurkan tahun lalu. Kemudian tahun ini kita akan meluncurkan KBBI Braille elektronik dan mudah-mudahan sesuai jadwal. KBBI ini kami beri nama sementara KBBI Disnet artinya untuk disabilitas netra, di mana dasarnya menggunakan huruf-huruf Braille yang rencananya diluncurkan bulan depan (Oktober),” terang Dadang.

Seminar Leksikografi ini merupakan seminar yang diadakan setiap tahun sejak 2016 yang bertujuan untuk menghimpun para pekamus dan pemerhati bidang leksikografi di Indonesia khususnya, dan para pemerhati dan peneliti bahasa pada umumnya, untuk saling bertukar informasi terkini tentang perkembangan dunia leksikografi.



Sumber: BeritaSatu.com