Sarang Burung Walet Indonesia Jadi Primadona di Pasar Internasional

Sarang Burung Walet Indonesia Jadi Primadona di Pasar Internasional
Pekerja mensortir sarang burung walet sebelum diekspor ke pasar internasional.  ( Foto: Suara Pembaruan / Arnold Almoan )
Arnold H Sianturi / JEM Jumat, 13 September 2019 | 14:41 WIB

Medan, Beritasatu.com- Sarang Burung Walet (SBW) dari Indonesia khususnya dari Sumatera Utara (Sumut), menjadi primadona di pasar internasional seperti Hongkong, Vietnam, Malaysia, Taiwan, dan Tiongkok. Bahkan, ekspor SBW ini bakal menguasai pasar dunia, mengalahkan Malaysia dan Thailand.

"Indonesia merupakan eksportir SBW nomor satu dunia. Kualitas SBW mendapatkan penilaian yang terbaik. Ini terlihat dari meningkatnya permintaan pasar. Sehingga, tren ekspor mengalami peningkatan," ujar praktisi usaha SBW, Yogi Pramadani di Medan, Sumut, Kamis (12/9/2019).

Untuk di Sumut, kata Yogi Pramadani, total ekspor SBW dengan seberat 20,86 ton di tahun 2018 memiliki estimasi pendapatan Rp 41,4 miliar. "PT Ori Ginalnest Indonesia merupakan perusahaan eksportir SBW terbesar asal Sumut yang dinilai mumpuni dalam kegiatan ekspor tersebut. Perusahaan ini memasok 31 persen dari total ekspor secara nasional," kata Yogi Pramadani.

Yogi Pramadani yang juga menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Raflesia Group ini menambahkan, tren ekspor SBW asal Sumut melalui PT Ori Ginalnest ke Tiongkok mengalami peningkatan dari 13,7 ton di tahun 2017, menjadi 20,86 ton pada 2018. Begitu juga secara nasional, yakni 23 ton di tahun 2017 kemudian menjadi 52 ton pada tahun 2018.

Adapun penghargaan yang diterima PT Ori Ginalnest Indonesia dari pemerintah negeri Tiongkok di antaranya, The Best Exporter 2017 BCRC (Bird Nest Credit Alliance of Registration and Certification, red)-China Government, The Best Exporter 2018 BCRC-China Government, The Best Exporter 2018 CAWA (China Africulture Wholesale Market Association, red)-China China Association dan The Best Supplier 2018 EBMC-China Association.

"Tingginya permintaan pasar dunia karena berdasarkan hasil penelitian dunia bahwa SBW dinilai dipercaya memiliki beragam manfaat untuk tubuh karena memiliki kandungan 10 persen sialic acid, sehingga dibutuhkan. Penilaian dunia ini sangat positif, SBW asal Indonesia ternyata paling diakui mancanegara," jelasnya.

Yogi Pramadani mengaku optimistis ekspor SBW dari Sumut bisa ditingkatkan karena didukung sumber daya alam di daerah tersebut. Optimisme peningkatan ekspor itu didasarkan pada sumber daya alam yang dimiliki Sumut. Apalagi, Kota Medan, Tebingtinggi, Kabupaten Deliserdang dan kawasan Cikampak di Kabupaten Labuhanbatu, merupakan daerah pendukung sentra penghasil SBW di Sumut.

Sebelumnya, Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian (Barantan Kementan), Ali Jamil Harahap mengungkapkan, Sumatera Utara memasok sebesar 31 persen dari total ekspor SBW secara nasional. Oleh karena itu, Ali Jamil berharap supaya volume ekspor tersebut bisa meningkat hingga 100 persen di tahun 2019.

"Berdasarkan data dari Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, enam pintu pengeluaran ekspor SBW melalui Bandara Internasional Kuala Namu (20,86 ton), Soekarno-Hatta (15,96 ton), Juanda Surabaya (14,87 ton), Ahmad Yani Semarang (14,79 ton) dan Supadio Pontianak (18 kilogram) di tahun 2018," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Medan, Hafni Zahara mengaku, permintaan SBW asal Sumut sangat tinggi dari sejumlah negara importir di dunia. Pada periode 28 Juni 2019, pihaknya merekomendasi ekspor 674,3 kg SBW tujuan Hongkong, Vietnam, Malaysia, dan Taiwan.

"Itu dari wilayah kerja Kantor Induk, sedangkan dari wilayah kerja Kargo Bandara International Kualanamu ada pengiriman sebanyak 1.251 kg. Bila ditotal, volume ekspor sarang burung walet periode 28 Juni 2019 mencapai 1.925,3 kg dengan nilai Rp19,253 miliar," paparnya saat dikonfirmasi pada Juli 2019 lalu.



Sumber: Suara Pembaruan