Publikasi Ilmiah Harus Didorong ke Arah Inovasi

Publikasi Ilmiah Harus Didorong ke Arah Inovasi
Menristekdikti Mohamad Nasir memberikan pidato sambutan saat acara Revitalisasi Pendidikan Vokasi, Jakarta, Rabu 17 Juli 2019. Seminar ini diselenggarakan untuk menjawab ajakan pemerintah kepada sektor industri agar meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, disamping itu untuk membekali siswa didik dengan pendidikan serta keterampilan yang selaras dengan karakteristik dan kebutuhan industri terkait. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Jumat, 13 September 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Publikasi ilmiah Indonesia bergerak masif hingga menduduki puncak jumlah publikasi tertinggi di lingkup ASEAN atau negara-negara Asia Tenggara tahun 2018. Posisi ini menyalip Malaysia dan Singapura. Namun tidak hanya terbatas kuantitas publikasi ilmiah, upaya hilirisasi inovasi dari publikasi itu terus didorong.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, ini semua membuktikan bahwa Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) serius dalam memperbaiki iklim riset Indonesia.
Ia menyebut, salah satu tantangan yang masih dihadapi Indonesia yakni belum sebandingnya jumlah mahasiswa dan dosen dengan jumlah publikasi yang dihasilkan. Menurutnya, kurang dikenalnya penelitian anak negeri di tingkat global antara lain diakibatkan rendahnya publikasi global para peneliti tersebut.

Oleh karena itu, Kemristekdikti meluncurkan berbagai kanal untuk mendorong publikasi internasional tersebut bagi para peneliti Indonesia. Salah satunya adalah science and technology index (Sinta). Nasir pun berharap, Sinta dapat memotivasi para peneliti untuk lebih giat menghasilkan publikasi dan perlahan dapat menghilangkan ketergantungan penggunaan sistem pengindeks publikasi dari luar negeri.

"Sistem ini masih jauh dari sempurna karena memang baru dimulai. Namun tidak akan berhenti untuk disempurnakan," katanya di sela-sela pembukaan pameran National Expo for Science and Technology (NEST) 2019 di Jakarta, Kamis (12/9).

Nasir menambahkan, dengan Sinta diharapkan daya saing jurnal dan publikasi ilmiah dapat meningkat tajam di tahun-tahun ke depan. Sebab kata dia, publikasi ilmiah saat ini memegang peranan sangat penting sebagai bukti pertanggungjawaban ilmiah hasil penelitian sehingga dapat dikenal luas secara global.

World Class University (WCU) menempatkan publikasi ilmiah sebagai salah satu indikator dalam melakukan pemeringkatan perguruan tinggi di seluruh dunia. Hingga 9 September 2019, publikasi ilmiah Indonesia di tingkat ASEAN untuk tahun 2018 yang telah diterbitkan jurnal Scopus sebanyak 34.007, menduduki posisi pertama diikuti oleh Malaysia sebanyak 33.286.
Namun untuk publikasi tahun 2019, Indonesia sementara menjadi kedua di angka 19.916, dikalahkan oleh Malaysia di angka 20.993.

"Masih ada waktu untuk segera terus berkompetisi di ASEAN dan secara global. Sementara jurnal kita terus mengalami peningkatan baik yang terakreditasi nasional maupun bereputasi internasional," paparnya.

Dalam kesempatan itu juga dilakukan pemberian penghargaan Sinta Award 2019. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi Kemristekdikti terhadap upaya yang dilakukan kalangan peneliti dan akademisi dalam mendorong peningkatan publikasi dan jurnal ilmiah Internasional.

Nasir menyebut, capaian publikasi internasional ini adalah lompatan luar biasa. Namun ia pun mendorong hal ini agar tidak sebatas publikasi dan perlu didorong menjadi inovasi.

"Saya perintahkan ada pemetaan riset. Mana riset dasar, terapan dan pengembangan yang sudah masuk ke ranah industri," ucapnya.

Selama ini tambahnya, masih banyak yang berhenti hanya di riset dasar. Dengan hadirnya Undang-Undang No 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Iptek, ada upaya kolaborasi dan integrasi riset sehingga tidak terjadi tumpang tindih penelitian.
"Mudah-mudahan akan terbentuk Badan Riset Nasional. Akan ada integrasi dan kolaborasi riset," kata Nasir.

Cukup Pesat
Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristekdikti, Muhammad Dimyati menjelaskan, dalam kurun satu tahun Sinta telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, dari sisi kuantitas dan kualitas.

Sampai 9 September 2019, telah terdaftar lebih dari 177.000 dosen dan peneliti, 4.776 lembaga, 2.720 jurnal, 26.588 buku dan 2.543 kekayaan intelektual yang sudah masuk terindeks di Sinta berdasarkan hasil verifikasi, akreditasi dan evaluasi.

"Integrasi data sebelumnya dengan Google Scholar dan Scopus, ditingkatkan dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk buku, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual untuk paten dan hak cipta, serta web of science," ungkapnya.

Selain Sinta kata Dimyati, Kemristekdikti juga meluncurkan berbagai saluran untuk mendongkrak publikasi penelitian. Saluran itu antara lain Id Menulis sebagai wahana tutorial dan pendampingan dalam melakukan publikasi ilmiah.

Kemudian ada repositori tugas akhir mahasiswa (Rama) yang merupakan layanan integrasi repositori tugas akhir mahasiswa yang dikelola oleh setiap perguruan tinggi.

Ada pula anjungan integritas akademik (Anjani) yang merupakan layanan sistem pembinaan, pelaporan pelanggaran integritas akademik dan pendeteksi kemiripan karya ilmiah.

"Ketiga sistem baru tersebut melengkapi sistem yang sudah dikembangkan oleh Kemristekdikti dalam peningkatkan kualitas publikasi yang beretika dan berintegritas," tuturnya.



Sumber: Suara Pembaruan