7 Kepala Sekolah di Jateng Terindikasi Radikal

7 Kepala Sekolah di Jateng Terindikasi Radikal
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat menghadiri acara Halaqoh Kyai Santri Tentang Pencegahan Terorisme di Hotel Grand Syahid Salatiga, Sabtu (14/9/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Stefi Thenu )
Stefi Thenu / FMB Sabtu, 14 September 2019 | 14:18 WIB

Salatiga, Beritasatu.com - Sebanyak tujuh kepala sekolah SMA/SMK negeri di Jateng diduga terindikasi paham radikalisme.

"Sekarang masih kami bina untuk kembali ke jalan yang benar. Kalau tidak mau, ya diambil tindakan tegas," ungkap Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat menghadiri acara Halaqoh Kyai Santri Tentang Pencegahan Terorisme di Hotel Grand Syahid Salatiga, Sabtu (14/9/2019).

Menurutnya, ketujuh kepala sekolah itu saat ini sedang dibina untuk kembali ke jalan yang benar.

Ditegaskan, sekolah menjadi tempat yang harus segera dibereskan mengenai ideologi. Ia sendiri mengatakan sudah mendapat laporan dari banyak tokoh agama dan masyarakat mengenai penanaman paham radikalisme di sekolah yang dilakukan sangat massif.

Beberapa laporan yang masuk lanjut dia, isu radikalisme diberikan melalui mata pelajaran dan juga kegiatan ekstrakurikuler.

"Sekolah memang yang akan kami bereskan secepatnya. Setelah sekolah adalah pemerintahan. Dua hal ini yang menjadi fokus saya. Maka saya mengajak ayo semua organisasi keagamaan untuk bareng-bareng meluruskan idiologi bangsa ini," tegasnya.

Ganjar meminta masyarakat untuk berpartisipasi aktif memantau radikalisme. Apabila ada hal yang mencurigakan atau penyebaran paham radikalisme, harus segera melaporkan.

"Silakan laporkan ke kami, biar kami pemerintah yang urus. Partisipasi masyarakat dibutuhkan, karena itu bagian dari kepedulian pada bangsa dan negara," tandasnya.

Selain Ganjar, dalam acara tersebut juga hadir Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Sama dengan Ganjar, Khofifah pun menyoroti tentang masifnya penyebaran radikalisme di lingkungan sekolah.

"Bahkan ada survei dari UIN Syarief Hidayatullah Jakarta yang cukup mengerikan. Tidak sedikit anak yang disurvei sepakat bahwa orang murtad boleh dibunuh," jelasnya.

Tak hanya kalangan siswa, sejumlah guru dan dosen, menurut Khofifah juga menjadi objek survei. Dan hasilnya, banyak guru dan dosen yang memiliki paham radikal.

"Survei tersebut menunjukkan tingginya intoleransi di Indonesia. Untuk itu saya mengajak Mas Ganjar agar Jateng dan Jatim sering bertemu dan duduk bersama menyelesaikan persoalan-persoalan intoleransi," ungkapnya.