BNPB: Gambut yang Terbakar Sulit Dipadamkan

BNPB: Gambut yang Terbakar Sulit Dipadamkan
Ilustrasi kebakaran lahan gambut. ( Foto: ANTARA FOTO / Wahdi Septiawan )
Ari Supriyanti Rikin / JAS Sabtu, 14 September 2019 | 14:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di lahan gambut akan sulit dipadamkan. Meskipun di permukaan terlihat padam tetapi di dalamnya bisa jadi masih membara sehingga mengeluarkan asap dan menyebabkan bencana asap.

Gambut yang terbentuk dari pelapukan kayu pohon ratusan tahun lalu, sejatinya adalah ekosistem rawa gambut yang menyimpan air dalam jumlah besar.

Praktik penanaman dan eksploitasi di lahan gambut membuat pengeringan air di lahan gambut. Kondisi gambut pun menjadi kering saat musim kemarau dan ibaratkan bahan bakar yang potensial jika disulut api.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menyebut, memadamkan lahan gambut bukan hal mudah.

"Sudah 42 unit helikopter dikerahkan (melakukan water bombing atau bom air). Belum lagi dukungan dari unsur swasta dan dari TNI dan KLHK, mungkin ada 50 unit helikopter. Ternyata itu tak menjamin gambut yang terbakar bisa padam," kata Doni dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (14/9/2019).

Bahkan di Sumatera Selatan kata dia, berdasarkan pengakuan dari salah satu unsur BNPB di sana, sudah satu bulan, di satu tempat, hingga hari ini gambutnya belum padam.

"Jadi inilah sebuah pekerjaan besar bagi kita semua. Ketika terjadi kebakaran, memadamkannya sangat sulit," ucapnya.

Sebelumnya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menegaskan pemadaman gambut yang terbakar bisa efektif padam jika ada hujan deras yang berlangsung lama. Pemadaman dengan bom air saja tidak akan efektif. Sedangkan saat ini hingga Oktober musim kemarau masih akan berlangsung.

Dalam kesempatan itu, Doni juga berharap, kerja sama dari semua komponen dalam pencegahan dan penanganan karhutla.

Presiden lanjutnya, berulang kali menegaskan, untuk menyampaikan pesan bahwa masalah karhutla bukan tanggung jawab pemerintah semata, tapi seluruh bangsa, harus memahami dan ikut bertanggung jawab. Jika hal itu tidak dibuat maka sangat mungkin karhutla kembali berulang di tahun 2020.

"Dari sekarang kita siapkan. Saya tak ingin tiap tahun berulang," ucapnya.

Doni juga menyampaikan permohonan kepada para periset dari berbagai lembaga agar mencari teknologi dan alat yang ramah lingkungan. Sehingga teknologi itu nantinya bisa dipakai untuk membuka lahan tanpa membakar.

"Kita tak ingin kehabisan tenaga, kehabisan energi, kita tak ingin kehabisan uang, hanya karena kita belum optimal," kata Doni.

Doni juga berharap para pejabat negara terutama bupati, walikota, serta camat, lurah, untuk lebih peduli pada masyarakatnya dan aktif dalam penanganan karhutla.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dari Januari hingga Agustus 2019 jumlah luasan kebakaran mencapai seluas 328.724 hektare (ha) dengan rincian di lahan mineral 239.161 ha dan gambut 89.563 ha. Luasan gambut terbesar yang terbakar berada di Riau mencapai 40.553 ha.

 



Sumber: BeritaSatu.com