Rasio Elektrifikasi NTT Capai 73,72% Berkat EBT

Rasio Elektrifikasi NTT Capai 73,72% Berkat EBT
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ( Foto: Antara/Widodo S Jusuf )
Fajar Widhiyanto / FW Senin, 16 September 2019 | 00:34 WIB


Rasio elektrifikasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun ini telah mencapai 73,72%, lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya yang baru mencapai 62%. Lompatan rasio ini terlaksana karena dukungan sumber energi terbarukan (EBT) yang melimpah, berupa sinar matahari yang dikonversi menjadi energi lewat Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

Hal ini disampaikan Direktur Human Capital Management (HCM) PT (Persero) PLN Muhamad Ali dalam kesempatan paparannya pada Kuliah Umum bersama PLN dan sejumlah universitas dan perguruan tinggi akhir pekan lalu (13/9) di Kupang, NTT.

“Saat ini lebih dari Rp9 miliar sudah investasi yang tertanam pada enam pembangunan sumber EBT meliputi pembangkit listrik tenaga panas bumi, pembangkit listrik tenaga mikro hidro, tenaga surya, dan tenaga bayu,” kata Ali.

Program percepatan penyebaran setrum dari EBT ini, kata Ali tak terlepas dari sinergi perseroan dengan pemerintah desa. Peningkatan rasio elektrifikasi di Bumi Flobamora tersebut, juga mendapatkan dukungan dari SDM berkompetensi, yang dihasilkan melalui pelaksanaan program vokasi dengan sejumlah SMKN di wilayah Kupang dan Maumere yang terlaksana sejak tahun 2018.

PLN memang telah melaksanakan program rekrutmen, baik untuk jenjang SMK, S1/D4 selama empat tahun berturut-turut, serta melakukan program kerja sama program D3 dengan Politeknik Negeri Kupang.

Sepakat dengan Ali, General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Nusa Tenggara Timur (NTT) Ignatius Rendoyoko pun mengemukakan optimismenya, tidak lama lagi rasio elektrifikasi di NTT akan bergerak menuju 100%.

“Kami melihat wilayah ini merupakan salah satu provinsi yang tertinggi dalam optimalisasi penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), khususnya dalam pemanfaatan energi surya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pengerjaan projek PLTS di NTT dilakukan melalui peggunaan bidang lahan tanah yang tidak lagi produktif, sehingga nilai ekonomisnya akan bisa terkonversi melalui aplikasi PLTS,” paparnya.

Sementara itu terkait penyelenggaraan program vokasi, PLN menyediakan tempat untuk melaksanakan program kerja lapangan (PKL) dan magang bagi berbagai SMK dan SMU, serta menjadi lokasi tempat riset penelitian bagi universitas di lingkungan PLN.

Adapun sejumlah pengembangan SDM di NTT diakukan melalui program leader create leader pegawai UIW NTT dengan kader asli NTT, yang saat ini telah terealisasi sebanyak 14 dari 18 angkatan yang rencananya berlangsung sampai 31 Desember 2019. Ada juga pengembangan keahlian sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP); program riset kerjasama dengan Universitas Nusa Cendana; program pengembangan kompetensi keahlian kabel laut dengan ITB untuk melistriki Kepulauan di Labuan Bajo dengan sistem kabel laut, serta upaya memaksimalkan pemberdayaan putra daerah NTT di PLN.

Dalam kata sambutannya, Wakil Gubernur NTT Josef A Nae Soi, mengemukakan harapannya agar berbagai program pembangunan yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat didukung oleh semua pihak.

Ia menyinggung mengenai Provinsi NTT yang kaum milenialnya baru mencapai tingkat literasi di level 1,8%. Untuk itu ia sangat mengharapkan PLN sebagai BUMN, bisa melanjutkan berbagai program corporate social responsibililty (CSR) yang selama ini sudah berlangsung, termasuk program vokasi.

“Harapannya dengan berbagai program kerjasama seperti dalam bentuk penyediaan beasiswa dan sistem vokasi serta link and match, para putra daerah ini akan mampu memiliki pengalaman yang berbeda, dalam mengenyam pendidikan, baik di dalam dan juga sampai ke mancanegara,” tutur mantan Dubes Argentina untuk Indonesia ini.



Sumber: Majalah Investor