Intelektual Milenial Harus Perkuat Jati Diri ke-Indonesiaan

Intelektual Milenial Harus Perkuat Jati Diri ke-Indonesiaan
Adnan Anwar ( Foto: istimewa )
Bernadus Wijayaka / BW Senin, 16 September 2019 | 12:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Radikalisme saat ini telah masuk ke dalam berbagai ruang-ruang intelektual, baik melalui kampus maupun aktivitas akademis lainnya.

Mimbar-mimbar akademis dan intelektual dijadikan tunggangan masuknya paham radikal yang dimulai dengan sebaran paham intoleransi dan takfiri. Narasi ini memuncak dengan hadirnya secara terang-terangan politik identitas di ruang publik selama beberapa tahun terakhir yang banyak menyasar intelektual milenial.

Instruktur Pendidikan Kader Penggerak Nahdatul Ulama (PKPNU) Nasional, Adnan Anwar, mengatakan, untuk melawan paham radikalisme ini kaum intelektual milenial harus bisa membentengi dirinya dengan memperkuat jati diri ke-Indonesiaannya. Sehingga, ada kebanggaan nasional terhadap terhadap negara dan bangsa ini.

“Kita harus berkaca pada sejarah negara kita yang didirikan para pendahulu kita dengan keadaan beragam. Bahkan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia sudah terbukti menjadi menjadi common ideology yang sampai saat ini. Pancasila bisa menyatukan bangsa kita yang beragam ini, baik beragam suku beragam wilayah, beragam etnis dan agama,” ujar Adnan Anwar, dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/9/2019).

Bahkan, menurutnya, Pancasila juga sudah menjadi kajian di seluruh dunia, seperti di Amerika, Eropa, dan bahkan di negara-negara Arab. Mereka menyatakan, Pancasila bisa menjadi ideologi alternatif dunia. Karena salah satu kekuatan Indonesia itu ada di Pancasila ini. Dan kebanggaan terhadap nasionalisme bangsa ini harus dimunculkan kepada para generasi intektual milenial.

“Para pemimpin negara, pemimpin ormas ataupun pemimpin perguruan tinggi harus rajin membangkitkan kebanggaan nasional kepada jajaran di bawahnya bahwa kita (Indonesia) ini jauh lebih baik dibandingkan dengan negara yang lain. Itulah salah satu cara untuk menghindari intoleransi dan takfiri,” ujar tokoh muda NU ini.

Lebih lanjut Adnan menjelaskan, agar intelektual milenial tidak mudah terinfiltrasi paham radikal, mereka harus mengikuti berbagai macam kegiatan yang positif dan sifatnya membangun karakter.

“Kalau tidak punya banyak aktivitas atau menyendiri, bukan tidak mungkin mereka akan mudah terpengaruh propaganda dari orang yang mengajarkan ide-ide tentang intoleransi itu. Jadi perlu diperbanyak media untuk beraktivitas atau berekspresi di lingkungan kampus itu” kata mantan Wakil Sekjen Pengurus Besar NU itu.



Sumber: Suara Pembaruan