Anggap Penanganan Karhutla Amatiran, Fahri Minta Presiden Tegas

Anggap Penanganan Karhutla Amatiran, Fahri Minta Presiden Tegas
Fahri Hamzah (Foto: ANTARA)
Hotman Siregar / JAS Senin, 16 September 2019 | 16:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menilai penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah di Indonesia masih amatiran. Padahal, cara memberantas karhutla, sama seperti memberantas kasus korupsi di Indonesia. Fahri juga meminta Presiden Joko Widodo tegas dalam penanganan masalah karhutla.

"Kalau saya sih anggap ini amatirlah, para pekerja ini amatir. Karena itu harus kerja lebih profesional," kata Fahri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (16/9/2019).

Pemerintah, menurut Fahri harus lebih menggencarkan upaya pencegahan dan penindakan karhutla agar kejadian itu tidak berulang kembali.

"Bagaimana pencegahan dan penindakannya. Karena itu saya rasa ada kelemahan cara kerja. Maka, presiden harus evaluasi pejabat yang kerja di sektor ini, kenapa bisa terjadi," ujar inisiator Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) itu.

Bahkan, Fahri juga meminta agar Presiden Joko Widodo (Jokowi), bisa bersikap tegas terhadap para pembantunya yang mengatasi persoalan karhutla saat ini. Ia bahkan menyarankan Jokowi bisa memecat para pembantunya yang tak becus mengatasi persoalan tersebut.

"Tapi bentar lagi presiden kan ganti tim, ya ganti lah tim yang lebih profesional, jangan yang itu-itu aja. Kalau orang yang sama suruh kerja, pekerjaannya nggak selesai-selesai ya dipecat. Harus ada time limit. Rakyat uangnya terbatas," katanya.

Tak hanya itu, Fahri sempat bercerita pengalamannya mengunjungi sebuah laboratorium lingkungan hidup di California, Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu. Kala itu, ia mengatakan laboratorium itu bisa mendeteksi pohon-pohon yang ditebangi di seluruh dunia ini melalui satelit.

Ia pun berharap nantinya Indonesia memiliki alat mitigasi semacam itu guna mencegah terjadinya karhutla yang kerap hadir di musim kemarau.

"Jadi kalau kita di Indonesia punya alat mitigasi yang benar. Api masa nggak bisa kita baca, kayu saja yang ditebang bisa disensor oleh satelit. Masa api nggak bisa dilacak?" tutupnya.



Sumber: Suara Pembaruan