Kalteng Paling Parah Terdampak Asap Karhutla

Kalteng Paling Parah Terdampak Asap Karhutla
Kabut asap akibat kebakaran lahan mulai menyelimuti Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dan mengganggu aktifitas warga. ( Foto: Beritasatu TV )
Oktaviana Maria / ANA Rabu, 18 September 2019 | 18:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Pengendalian Karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Raffles B Panjaitan menyebut Provinsi Kalimantan Tengah merupakan wilayah terparah yang terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan, asap karhutla juga sudah menyebar ke negara tetangga, yaitu Malaysia dan Singapura.

"Kondisi terparah ada di Kalimantan Tengah, kalau di provinsi-provinsi lain sudah mulai berkurang. Tapi asap memang sudah agak menyebrang ke tetangga. Dari BMKG tadi pagi memang ada penyebaran asap ke sana" ujar Raffles di Beritasatu TV, Jakarta, Rabu (18/9/2019).

Kebakaran hutan juga masih terjadi di Riau. Kendati demikian, Raffles mengklaim jumlah hotspot (titik api) sudah menurun.

"Kondisinya di Riau memang masih ada kebakaran dan sudah ditangani. Hotspot juga menurun" kata Raffles.

Sementara itu, Raffles mengatakan kondisi udara di Sampit, Kalimantan Tengah yang dipantau melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Rabu (18/9/2019) pagi sempat masuk kategori berbahaya. Namun pada siang harinya, kualitas udara di Sampit turun ke kategori sedang.

Selain Sampit, wilayah yang kualitas udaranya juga turun ke kategori sedang, yaitu Pekanbaru, Kalimantan Selatan, dan Palembang.

"Kemudian dari (ISPU) yang kita lihat di Sampit itu tadi pagi jam 08.00 pagi sangat berbahaya, hitam. Tapi tadi saya monitoring terkahir sudah turun sedang. Jadi memang fluktuatif. Di Sampit, Pekanbaru, Kalimantan Selatan, Palembang sudah sedang, turun ya di atas 50" pungkas Raffles.

Lebih lanjut, Raffles menjelaskan kondisi kualitas udara yang berubah, kadang sedang hingga naik ke kategori berbahaya disebabkan angin.

"Ini fluktuatif karena tergantung arah angin. Kalau anginnya cepat bergerak, itu kan bisa hilang. Sekarang masalahnya angin itu kadang-kadang diblok dari arah Semenanjung Malaya itu tertahan sehingga tidak bisa bergerak" ujar Raffles.

Lihat Video:



Sumber: BeritaSatu TV