Menpar Target Satu Juta Wisman ke Borobudur Lewat YIA pada 2020

Menpar Target Satu Juta Wisman ke Borobudur Lewat YIA pada 2020
Menpar Arief Yahya saat meluncurkan Indonesia Sustainable Tourism Awards (ISTA) di Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia di kawasan Jakarta Pusat, Senin, 18 Maret 2019..
Fuska Sani Evani / CAH Kamis, 19 September 2019 | 09:54 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Setelah beroperasai secara penuh Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) Kulonprogo pada 2020, Kementerian Pariwisata (Kempar) menargetkan sejuta wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke Candi Borobudur lewat bandara terbaru tersebut.

Saat berbicara focus group discussion (FGD) "Meraih 1 Juta Wisman ke DSP Borobudur Melalui Pengembangan Aksesbilitas Bandara YIA', Rabu (18/9/2019) di Kulonprogo, Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan pemerintah pusat menyediakan anggaran Rp 2,1 triliun untuk pengembangan infrastruktur pendukung Borobudur sebagai satu di antara lima destinasi super prioritas pariwisata.

Selain itu juga ada dukungan anggaran lain untuk promosi dan insentif dan penyiapan sumber daya manusia (SDM) sehngga diperkirakan akan ada kucuran anggaran hingga Rp 3 triliun.

Ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah selain untuk penyelesaian infrastuktur dan utilitas dasar pada 2020.

Dikatakan, sampai sat ini, total wisatawan yang masuk Yogyakarta direct (langsung) lewat Bandara Adisutjipto sekitar 150 ribu dan posisi Wisman 1 juta tersebut, hanya 7 kali lipatnya.

“Harus berhasil ," kata Arief

Pariwisata di Yogyakarta selama ini terkendala oleh masalah serius berupa kepadatan penerbangan di Bandara Adisutjipto di tengah terbatasnya kapasitas bandara tersebut.

Bandara itu hanya berkapasitas 1,6 juta penumpang namun kini harus melayani hingga 8,4 juta penumpang.

Pesawat yang akan mendarat kerap kali harus mengalami holding time yang cukup lama, hingga 30 menit. Kondisi itu jadi masalah serius bagi promosi pariwisata.

Kehadiran dengan kapasitas 20 juta penumpang dan bisa ditingkatkan menjadi 25 juta penumpang per tahun akan memungkinkan lebih banyak penerbangan asing untuk datang, terutama low cost carrier (LCC) yang paling banyak mengangkut wisatawan asing.

Sebagian besar penerbangan asing selama ini tidak terlayani di bandara Adisutjipto karena keterbatasannya. Selain itu, YIA diharapkan bisa menjawab tantangan atas permintaan layanan penerbangan pesawat berbadan lebar (wide body).

Sebelumnya, maskapai internasional seperti Emirates tak bisa terbang ke Indonesia dengan pesawat besar macam Boeing 777 ataupun Airbus A380 karena kurangnya fasilitas memadai di bandara di Indonesia untuk kelas pesawat tersebut.

Dengan lebih banyak wisatawan datang, diharapkan masa inap (length of stay) wisatawan di DIY dan Borobudur juga turut terdongkrak.

Arief menyebut, masa inap wisatawan mancanegara di Borobudur selama ini rata-rata hanya 1,2 hari dan di DIY hanya 2,5 hari. Angka tersebut masih jauh di bawah angka nasional yang rata-rata 8 hari.

Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Faik Fahmi mengatakan program dari pemerintah sejalan dengan visi perusahaannya dengan pembangunan Bandara YIA untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Yogyakarta melalui kegiatan turis dan pariwisata.

Kehadiran bandara ini menyelesaikan permasalahan aksesibilitas sekaligus mempercepat akselerasi dalam mendatangkan turis internasional.

Pihaknya juga terus berupaya melakukan pendekatan pada maskapai penerbangan, terutama maskapai asing untuk bisa menerbangkan pesawat berbadan besar ke YIA, termasuk dengn memberi stimulus berupa free landing, diskon, dan tidak menutup kemungkinan diberikan insentif. 



Sumber: Suara Pembaruan