Ini Aplikasi Canggih Buatan ITB untuk Atasi Karhutla

Ini Aplikasi Canggih Buatan ITB untuk Atasi Karhutla
Peneliti ITB, Armi Susandi. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Kamis, 19 September 2019 | 16:57 WIB

Palangkaraya, Beritasatu.com – Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menawarkan aplikasi canggih berbasis web untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Ketua Peneliti ITB, Armi Susandi telah memaparkan aplikasi canggih bernama FORMS (Forest Fire Management System) itu di depan para peneliti dunia dari berbagai institusi bergengsi, seperti King’s College London, ITB, UK Research and Innovation Science and Technology Facilities Council (UKRI STFC), dan BMKG.

Armi yang diundang khusus oleh Puji Lestari dari ITB memaparkan FORMS dalam acara “International Training and Workshop on Identifying and Monitoring the Environmental Impact of Forest and Peatland Fires” yang berlangsung di Palangkaraya pada 18-20 September 2019.

Aplikasi FORMS diinisiasi oleh Armi, alumnus Max Planck Jerman, setelah mendapatkan permintaan langsung dari Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo. “BNPB ingin agar kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia bisa cepat teratasi dan tidak berulang di tahun berikutnya. Hal tersebut sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo,” ujar Armi dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Dijelaskan, aplikasi FORMS tersebut berisi fitur-fitur prediksi potensi sebaran api dan sebaran asap yang dapat dilihat dengan tepat lokasinya hingga tiga hari ke depan. Dengan demikian, temuan itu dapat dimanfaatkan dalam menyusun strategi pemadaman karhutla serta dapat juga menjadi petunjuk penting bagi aparat di lapangan dalam memadamkan kebakaran.

Berdasarkan data ESRI, sejak awal tahun ini sudah lebih dari 302.000 titik api (hotspot) yang terpantau setidaknya di empat provinsi, yaitu Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Papua. Empat provinsi tersebut yang paling besar jumlah kejadian karhutla.

Karhutlan paling banyak terjadi di wilayah konsesi hutan, yaitu sebesar 32% dan didominasi di wilayah gambut. Sementara, kejadian karhutla di perkebunan yang telah tersertifikasi (RSPO dan IPSP) cenderung minim terjadi.

Sebelumnya, Kepala BNP Doni Monardo mengatakan, 99% penyebab karhutla adalah ulah manusia. Saat ini wilayah Indonesia mengalami El Nino moderat atau terjadi kekeringan dan hujan sangat rendah.

Menanggapi itu, Armi mengatakan, kondisi kekeringan tersebut masih akan berlangsung hingga April 2020. Ahli kebencanaan dari Padang, Sumatera Barat itu berharap agar angin monsun timur laut yang membawa uap air dan awan basah serta menimbulkan hujan akan mengimbangi kejadian El Nino tersebut.

Armi memprediksi awal musim hujan akan tertunda hingga satu atau dua bulan mendatang. Itu terlihat dari arah angin yang masuk ke wilayah Indonesia, yang masih didominasi dari arah selatan.

“Aplikasi FORMS juga akan dikembangkan dengan beberapa fitur utama lainnya, seperti telemetri dari instrumen di lapangan untuk memantau tinggi muka air di area gambut, early warning potensi kebakaran hutan, data pendukung cuaca untuk operasi hujan buatan, serta analisis dampak (impact base) dari kebakaran hutan tersebut untuk penentuan besarnya bantuan yang akan diberikan secara tepat,” ujar Armi.

Dia berharap agar aplikasi FORMS bisa diluncurkan secara resmi lengkap dengan fitur-fiturnya dalam beberapa bulan ke depan. Dikatakan, sistem ini akan didukung oleh data dan informasi yang penting dari berbagai sumber, khususnya dari kementerian dan lembaga terkait.

Penggunaan FORMS, kata ilmuwan yang baru menyelesaikan Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXII Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) itu, akan memberikan harapan besar bagi pengurangan karhutla di Tanah Air. “Melalui platform ini, karhutla bisa diantisipasi lebih awal melalui prediksi dari potensi hotspot yang ada. Tentunya, aspek penting lainnya, seperti perbaikan budaya berkebun dan penegakan hukum, perlu dilakukan dalam mengatasi bencana asap tersebut,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan