Polisi Gagalkan Penyelundupan 145 Jenis Burung Langka Asal Papua

Polisi Gagalkan Penyelundupan 145 Jenis Burung Langka Asal Papua
Ilustrasi Burung Langka. ( Foto: Dok. Gakkum KLHK )
Aries Sudiono / JEM Jumat, 20 September 2019 | 15:32 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Ditpolair Polda Jawa Timur (Jatim) menggagalkan usaha penyelundupan 145 burung langka dan tiga kepala rusa lengkap dengan tanduknya asal Papua di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Kamis (19/9/2019). Dalam pengungkapan kasus ini, empat terduga pelaku pemilik binatang langka yang dilindungi itu ditangkap dan hingga kini masih dalam proses pendalaman. Seluruh satwa tersebut kini diamankan sebagai barang bukti, di antaranya 27 ekor burung Jagal Papua, 92 ekor Cucak Papua, 22 ekor burung Katsuri, seekor koak dan tiga kepala beserta tanduk rusa asal Papua.

“Kasus penyelundupan ini terbongkar ketika petugas kami memeriksa kapal kargo KM Senja Persada (SP) yang baru sandar di Pelabuhan Tanjung Perak. Semua satwa langka yang dilindungi itu kita temukan di dalam ruang mesin kapal. Tidak ada surat selembarpun yang membuktikan keberadaan burung-burung asal Papua yang dilindungi itu,” ujar Wadir Polair AKBP Kobul Syarin Ritonga, dalam keterangan persnya, Kamis.

Diungkapkan, untuk mengelabuhi petugas, burung-burung asal Papua itu dimasukkan dalam sangkar dan ditutup dengan kain dan barang-barang lainnya sehingga tidak terlihat.

AKBP Kobul Syarin Ritonga, membenarkan, tidak ada dokumen apapun yang dibawa keempat orang pemiliknya itu kendati mereka mengetahui bahwa burung-burung tersebut masuk katagori langka dan dilindungi. “Satwa ini berendemik di Papua,” ujar AKBP Kobul Syarin Ritonga sambil menambahkan, keempat terduga pelaku sengaja membeli burung tersebut dari warga Papua dengan harga sangat murah dan selanjutnya dibawa secara gelap ke Pulau Jawa untuk dijual kembali dengan harga tinggi.

Sementara untuk proses penyelamatan, ratusan burung tersebut akan dititipkan pemeliharaannya di kandang transit Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Juanda, Surabaya. Dalam kandang itu semua satwa langka itu dilakukan proses karantina dan pemeriksaan kesehatannya sebelum nantinya satwa dilindungi tersebut akan dilepaskan kembali ke habitat asalnya di Papua, ujar AKBP Kobul Syarin Ritonga.

“Kami masih telusuri kepada siapa saja burung-burung ini akan dijual,” tandasnya sambil membenarkan bahwa keempat pelaku dijerat pelanggaran Pasal 21 ayat 2 UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Mereka diancam hukumannya pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta. 



Sumber: Suara Pembaruan