Hanya Hujan yang Bisa Padamkan Karhutla di Jambi

Hanya Hujan yang Bisa Padamkan Karhutla di Jambi
Gubernur Jambi, Fachrori Umar (empat dari kanan) didampingi Bupati Muarojambi, Masnah Busro (empat dari kiri) memadamkan kebakaran lahan gambut di areal perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Bara Eka Prima (BEP), Desa Puding, Kecamatan Kumpeh Ilir, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Jumat (20/9). ( Foto: Beritasatu Photo / Radesman Saragih )
Radesman Saragih / JAS Sabtu, 21 September 2019 | 07:34 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Ribuan anggota pasukan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi tidak berdaya lagi memadamkan karhutla akibat areal yang terbakar sudah terlalu luas. Pemadaman karhutla melalui jalur darat dan udara tidak efektif lagi karena lokasi karhutla banyak di tengah hutan dan sulit dijangkau. Pemadaman karhutla di Jambi kini hanya bisa mengharapkan hujan.

Irfan (50), seorang anggota masyarakat peduli api (MPA), Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi di Jambi, Jumat (20/9/2019) mengatakan, tak banyak lagi yang bisa dilakukan untuk memadamkan karhutla di daerah itu. Masalahnya lahan gambut yang terbakar sangat luas, sudah mencapai ribuan hektare.

Dijelaskan, hutan gambut yang terbakar di Kecamatan Puding, Kumpeh, Muarojambi dan di Desa Londerang, perbatasan Muarojambi – Tanjungabung Timur sudah mencapai ribuan hektare. Lokasi kebakaran hutan gambut tersebut juga sudah jauh ke tengah hutan dan sulit dijangkau.

“Pemadaman menggunakan water bombing (pengeboman air) menggunakan helikopter juga tak efektif karena gambut yang terbakar luas, gambut yang terbakar rata-rata mencapai kedalaman lima meter dan asap tebal menghalangi penerbangan,” katanya.

Sulitnya pemadaman karhutla di Jambi tersebut juga diakui Kapolda Jambi Irjen Pol Muchlis AS. Menurut Muchlis pemadaman sulit dilakukan karena lokasi kebakaran lahan gambut sangat luas, jauh dari jangkauan, dan sumber air sulit.

"Helikopter juga sulit melakukan pemadaman melalui jalur udara karena asap membuat jarak pandang sangat terbatas. Bahkan akibat besarnya kebakaran hutan dan disertai asap tebal, helikopter tidak bisa mendekat ke lokasi kebakaran hutan," ujarnya.

Dijelaskan, dengan kondisi karhutla seperti sekarang ini, hanya hujan yang bisa memadamkannya. Pasukan pemadam kebakaran sudah tidak bisa berbuat banyak.

Kalau pasukan masuk terlalu jauh ke lokasi kebakaran gambut yang luas, risikonya sangat tinggi. Petugas bisa terperosok ke bara api di dalam gambut. Belum lagi banyaknya ular yang menjalar ke pohon-pohon di lokasi karhutla. Itu juga menjadi ancaman keselamatan pasukan pemadam kebakaran.

"Bagaimana pasukan pemadam mau mendekat ke lokasi? Selain panas bara api terasa, asap juga tebal dan jebakan gambut terbakar banyak. Pesawat water bombing tidak lagi efektif memadamkan api di lahan gambut yang luas dan dalam. Bila air dijatuhkan dari helikopter, air tersebut sudah seperti embun jatuh ke lokasi karhutla. Sedangkan kebakaran gambut berada empat meter di dalam tanah,” katanya.

Sulit Ditangkap

Menanggapi penanganan kasus karhutla, Muchlis AS mengatakan, jajaran Polda Jambi sudah menahan dan memeriksa 19 orang tersangka. Sebanyak 17 orang tersangka dari kalangan petani dan dua dari korporasi.

Menurut Muchlis AS, penanganan kasus karhutla yang melibatkan petani lebih mudah karena rata-rata mereka tertangkap tangan ketika membakar hutan dan lahan. Namun penanganan pelaku pembakaran dari kalangan pengusaha atau korporasi sulit. Masalahnya korporasi tidak ada yang tertangkap tangan membakar lahan kendati areal hutan dan lahan korporasi yang terbakar cukup luas.

"Ada perusahaan yang menyuruh orang lain membakar lahan mereka dengan membayar orang tersebut. Pengusaha siap menanggung biaya keluarga pelaku pembakaran hutan dan lahan tersebut bila tertangkap. Jadi pengusaha menjadikan warga masyarakat seagai tumbal pembakaran hutan dan lahan,”katanya.

Sementara itu Gubernur Jambi, Fachrori Umar ketika meninjau kebakaran lahan gambut di Desa Puding, Kecamatan Kumpeh Ilir, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Jumat (20/9/2019) mengatakan, pihaknya segera mengumpulkan perusahaan-perusahaan untuk saling bertemu mencari solusi mengenai pencegahan dan penanggulangan karhutla. Pemanggilan itu dilakukan agar pihak pengusaha di daerah itu lebih serius mencegah dan menanggulangi karhutla.

Pada peninjjauan tersebut, Fachrori Umar yang didampingi Bupati Muarojambi, Masnah Busro menemukan kebakaran gambut di lahan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Bara Eka Prima (BEP) dan PT Pesona Belantara Persada (PBP), Desa Puding, Kecamatan Kumpeh Ilir, Kabupaten Muarojambi.

“Kondisi kebakaran gambut di Muarojambi dan Tanjungjabung Timur ini memang cukup luas dan parah. Saya meminta Bupati Muarojambi dan Tanjungjabung Timur serta perusahaan mengerahkan semua kekuatan menanggulangi kebakaran lahan gambut ini,” katanya.

Fachrori Umar pada kesempatan itu juga meminta pihak Pertamina Jambi membantu memobilisasi dan menjamin ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) BBM untuk alat berat dan mesin pemadaman karhutla, termasuk BBM untuk helikopter.



Sumber: Suara Pembaruan