Pendidikan Keterampilan, Modal Sukses Bonus Demografi

Pendidikan Keterampilan, Modal Sukses Bonus Demografi
Para mahasiswi bertanya kepada petugas stand salah satu perusahaan ( Foto: Majalah Investor / Uthan A Rachim )
Dina Fitri Anisa / FMB Sabtu, 21 September 2019 | 11:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mendapat angin segar bahwa nantinya, Indonesia akan dimanjakan dengan tumbuhnya penduduk usia produktif tidak bisa dianggap remeh. Terlebih saat ini dunia tengah bergerak cepat memasuki arus perubahan besar industri keempat. Tanpa kualitas yang memadai, SDM Indonesia akan tertinggal dibanding negara-negara lain.

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemko PMK) menjelaskan, salah satu stategi yang dilakukan pemerintah adalah meningkatkan kapasitas perguruan tinggi, baik universitas maupun politeknik untuk memenangkan persaingan di masa depan. Langkah ini juga untuk mengubah profil angkatan kerja di Tanah Air yang selama 10 tahun belakangan didominasi lulusan SD/SMP.

Ia menjelaskan, jumlah angkatan kerja Indonesia itu besar. Untuk perguruan tinggi, setiap tahun menghasilkan 1,3 juta lulusan. Di level pendidikan menengah, setiap tahun itu ada sekitar 3,7 juta lulusan SMA/SMK/MA. Sebanyak 1,9 juta masuk perguruan tinggi, sisanya masuk lapangan kerja. Selama 10 tahun terakhir, data ini tidak berubah. Berarti ada 3,1 juta pencari kerja baru setiap tahun dan lebih banyak yang lulusan SMA.

“Tantangannya, kita sedang hadapi sekarang era industri 4.0. Banyak pekerjaan-pekerjaan yang hilang karena digantikan dengan kecerdasan buatan dan internet. Di masa lampau 1 persen pertumbuhan ekonomi dari berbagai aktivitas investasi bisa menyerap sekitar 200.000 pekerja baru. Sekarang, 1 persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menciptakan lapangan kerja sekitar 75.000. Bisa dibayangkan kalau ada 3,1 juta orang, berapa persen ekonomi harus tumbuh?,” jelasnya saat Seminar Nasional yang digelar Lemhanas, di Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Pendidikan vokasi merupakan salah satu jalur meningkatkan kualitas SDM dan mampu menghasilkan masyarakat yang siap bekerja. Ada tiga jalur yang telah disiapkan oleh pemerintah melalui jalur vokasi. Mulai dari jalur pendidikan kejuruan, politeknik dan juga pelatihan/kursus.

Indonesia sekarang telah memiliki 14.000 sekolah kejuruan, 500 politeknik dan lembaga kursus yang di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mampu menampung 2,9 juta peserta didik/tahun.

"Saya katakan bahwa yang perlu diperbesar yaitu kapasitas pendidikan tinggi di bidang vokasi, yakni politeknik kejuruan yang menghasilkan keterampilan.Kita perlu edukasi masyarakat lebih mengedapankan kompentesi bukan sekadar ijazah. Kita harus memperbesar kapasitas pendidikan tinggi dengan membuka politeknik baru. Saya membayangkan ada 500 politeknik baru selama lima tahun ke depan. Memang akan mahal, tapi ini investasi jangka panjang,” lanjut Agus.

Selain itu pariwisata, konduktor, dan listrik, terdapat lima bidang yang akan terus dikembangkan. Yaitu, makanan dan minuman, tekstil, elektronik, kimia, dan otomotif. Bidang-bidang ini diharapkan bisa menyerap 3,1 juta pencari kerja setiap tahun.

“Ada banyak kompetensi yang diperlukan. Kita akan melakukan penajaman dan penataan kembali kurikulum, akan selalu terus menata kurikulum. Supaya tidak sampai terjadi mismatch, antara apa yang kita hasilkan dengan permintaan kerja,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, Totok Suprayitno, menjelaskan bonus demografi hanya bisa terwujud bila suatu negara mampu mengedepankan pembangunan SDM yang mengarah pada kebutuhan keterampilan industri masa depan.

Pendidikan yang baik di industri 4.0 ini sangat besar tantangannya, terlebih kini hadir Artificial Intelligent (AI) atau kecerdasan buatan. Menurut Totok, saat ini banyak pekerjaan yang memerlukan pengetahuan dasar yang rendah sudah hilang. Namun di sisi lain, banyak pekerjaan baru yang memerlukan keterampilan penalaran aras tinggi bermunculan. Semisal, data analysist, informasi scientist, dan programming.

Berdasarkan data dari Future of Jobs Survey 2018, World Economic Forum menunjukkan beberapa keterampilan yang dibutuhkan pekerja Indonesia di masa depan. Yaitu, creativity, analytical thinking and innovation, complex problem-solving, leadership and social influence, emotional itelligence, technology design and programming, systems analysis and evaluaion.

“Di era ini, tantangannya bukan seberapa banyak penduduk yang terdidik, tetapi seberapa kualitas penduduk itu terdidik. Kemampuan anak-anak kita untuk bidang-bidang tadi sesungguhnya masih rendah,” jelasnya.

Untuk itu, arah kebijakan Kemendikbud akan berfokus kepada perbaikan kultur pembelajaran. Saat ini Indonesia masih memperlihatkan bagaimana guru mengajar dengan cara mengembangkan karakter, pikiran, dan jasmani siswa, seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara.

“Bagaimana jika guru menggunakan cara belajar Ki Hajar Dewantara yang menyenangkan tetapi tetap belajar. Justru metode belajar ini, yang akan menghasilkan dengan kompetensi yang tinggi. Sehingga, ini bisa jadi pondasi ketahanan keterampilan aras tinggi. Tidak peduli umum atau vokasi, tetapi membentuk siswa dengan karakter pembelajar,” tukasnya. 



Sumber: Suara Pembaruan