Asap Sangat Tebal, Bandara Sultan Thaha Jambi Lumpuh

Asap Sangat Tebal, Bandara Sultan Thaha Jambi Lumpuh
Suasana Desa Puding, Kecamatan Kumpeh Ilir, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi yang tampak gelap akibat asap tebal, Minggu (22/9) siang. Ribuan hektare lahan gambut di sekitar tersebut masih membara dan menyebarkan asap hingga Minggu sore. ( Foto: Beritasatu Photo / Radesman Saragih )
Radesman Saragih / JAS Minggu, 22 September 2019 | 16:57 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Bandara Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Kota Jambi masih lumpuh total hingga Minggu (22/9/2019) sore menyusul asap tebal yang menyelimuti Kota Jambi. Asap tebal yang membuat jarak pandang di bawah satu kilometer di Bandara STS Kota Jambi membuat pesawat tidak bisa mendarat di bandara tersebut.

Executive General Manajer Bandara STS Kota Jambi, M Hendra Irawan di Kota Jambi, Minggu (22/9/2019) sore menjelaskan, gangguan asap terhadap penerbangan di Kota Jambi mulai terjadi Minggu pagi sekitar pukul 10.30 WIB. Asap tebal yang menyelimuti Kota Jambi Minggu pukul 10.30 WIB membuat jarak pandang hanya sekitar 550 meter.

“Akibat terbatasnya jarak pandang tersebut pesawat Garuda nomor penerbangan GA 126 Jakarta – Jambi tidak bisa mendarat di Bandara STS Kota Jambi. Akhirnya pesawat tersebut mengalihkan pendaratan di Bandara Sultan Badaruddin II Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel),” katanya.

M Hendra Irawan lebih lanjut mengatakan, pesawat Garuda nomor penerbangan GA 7114 Palembang-Jambi juga batal mendarat di Bandara STS Kota Jambi, Minggu siang sekitar pukul 11.00 WIB. Akhirnya pesawat tersebut kembali ke Bandara Sultan Badaruddin II Palembang.

“Pesawat Wings Air IW 1151 tujuan Kota Jambi-Muarabungo, Kabupaten Bungo, Jambi yang semestinya berangkat Minggu (22/9) pukul 08. 50 WIB batal berangkat akibat jarak pandang di Bandara Muarabungo hanya 350 meter,” ujarnya.

Dijelaskan, beberapa maskapai penerbangan juga membatalkan penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta, Banten-Jambi akibat asap tebal yang menyelimuti Kota Jambi. Pesawat yang membatalkan penerbangan ke Jambi tersebut antara lain Batik Air, Citilink, Lion Air, dan Nam Air.

Masih Membara

Sementara itu kebakaran hutan dan lahan gambut di Desa Puding, Kecamatan Kumpeh Ilir, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi masih membara hingga Minggu (22/9/2019) sore. Kebakaran hutan dan lahan gambut tersebut masih terus menyebarkan asap hingga ke Kota Jambi dan beberapa kabupaten lainnya.

“Kebakaran lahan gambut di Muarojambi yang terjadi sejak tiga hari lalu tersebut terdapat di areal PT Bara Eka Prima dan PT Pesona Belantara Persada (PBP), Desa Puding, Kumpeh Ilir, Muarojambi. Luas lahan gambut yang terbakar di areal kedua perusahaan tersebut sudah mencapai ribuan hektare,” kata Kepala BPBD Muarojambi, M Zakir.

Dikatakan, pemadaman kebakaran lahan gambut di Muarojambi tersebut masih terus dilakukan melalui jalur darat dan udara. Ratusan personel pasukan pemadam kebakaran dari TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, BPBD Kabupaten Muarojambi, Manggala Agni ,dan Masyarakat Peduli Api (MPA) masih terus berupaya memadamkan kebakaran gambut tersebut hingga Minggu sore.

Sementara itu pantauan di Kota Jambi, Minggu (22/9/2019), asap tebal kebakaran hutan menyelimuti kota itu mulai pagi hingga sore. Asap tebal bercampur debu, sehingga sangat mengganggu aktivitas dan kesehatan warga masyarakat. Sebagian besar warga Kota Jambi yang melakukan aktivitas di luar ruangan maupun di rumah menggunakan masker.

“Asap sudah masuk ke rumah. Bau asap sangat terasa di dalam rumah. Karena itu kami terpaksa pakai masker di dalam rumah. Kemudian kami juga menghidupkan kipas angin seharian di dalam rumah untuk menghalau asap,” kata Rini (30), warga Paal V, Kota Jambi.

Secara terpisah, Zahra (45), warga Desa Seponjen, Kumpeh Ilir, Muarojambi, udara di desa yang dekat dengan lokasi kebakaran gambut tersebut gelap dan tampak memerah dua hari ini akibat tebalnya asap.

“Langit di desa ini tampak mendung dan memerah akibat asap tebal. Cahaya matahari terhalang asap tebal sehingga suasana desa tampak gelap Minggu sekitar pukul 11.00-17.00 WIB. Jarak pandang di Desa Seponjen pun hanya sekitar 200-300 meter. Kondisi tersebut membuat warga banyak mengurung diri di rumah,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan