Dankodiklat: Motivasi Pertama Sarjana Masuk TNI Adalah Pengabdian

Dankodiklat: Motivasi Pertama Sarjana Masuk TNI Adalah Pengabdian
Dari kiri ke kanan, Komandan Kodiklat TNI Mayjen Benny Indra Pujihastono, Dan Pusdikma Kodiklat TNI Brigjen Herianto Syahputra, dan alumnus PPSA XXI Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) AM Putut Prabantoro saat mengunjungi karya bakti di Desa Semanu, Wonosari, Yogyakarta, Kamis, 20 September 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Minggu, 22 September 2019 | 21:46 WIB

Wonosari, Beritasatu.com - Pengabdian kepada bangsa dan negara adalah motivasi pertama mereka yang lulus perguruan tinggi untuk masuk menjadi anggota TNI. Dengan dasar pengabdian itu, mereka ingin membangun negara dan bangsa secara nyata. Para peserta menyadari bahwa pengabdian akhirnya menjadi landasan cinta yang kuat kepada negara, bangsa, dan institusi TNI.

Hal itu dikatakan Komandan Pendidikan dan Pelatihan (Dankodiklat) TNI, Mayjen Benny Indra Pujihastono ketika mengujungi bakti sosial yang dilakukan para siswa Pendidikan Pertama Perwira Karier (Dikmapa PK) TNI di Semanu, Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, Kamis (20/09/2019). Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (22/9/2019), kehadiran Benny Indra Pujihastono disambut oleh Danpusdikma Kodiklat TNI, Brigjen Herianto Syahputra dan alumnus Program Pendidikan Singkat (PPSA) XXI Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) AM Putut Prabantoro.

Menurut Mayjen Benny, mereka yang mengikuti Dikmapa PK TNI merupakan tenaga kesehatan baru yang berjumlah 185 orang. Mereka berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, namun memiliki dasar cinta yang sama, yakni pengabdian.

Para peserta menyadari bahwa pengabdian merupakan landasan cinta negara, bangsa, dan institusi TNI. Dengan pengabdian, para siswa baru dapat membangun cintanya secara total kepada negara dan bangsa.

“Ini persis sama dengan semangat Panglima Besar Jenderal Soedirman yang mengabdikan diri secara total kepada bangsa dan negara dalam wujud tetap memimpin perang meski kondisi fisiknya tidak mendukung karena sakit. Tanpa pengabdian, cinta kepada Tanah Air dan bangsa tidak pernah akan terwujud,” ujar Benny.

Mantan Pangdam VI/Mulawarman itu menjelaskan lebih lanjut, setelah pengabdian, motivasi lain para siswa lulusan perguruan tinggi masuk menjadi TNI beragam, antara lain pengembangan karier, berharap dapat meneruskan sekolah spesialis, dan mewujudkan cita-cita sebagai tentara. Namun, para siswa sepakat bahwa pengabdian itu membutuhkan kesetiaan, sebagaimana cinta akan Tanah Air dan bangsa juga membutuhkan kesetiaan.

Sementara itu, menurut Brigjen Herianto Syahputra, bakti sosial kesehatan di Semanu, Wonosari, dihadiri 300 pasien, yang merupakan warga Semanu dan desa sekitarnya. Bakti sosial itu merupakan acara penutup dari program Dikmapa PK dengan sebelumnya diawali dengan napak tilas rute Panglima Besar Jenderal Soedirman. Napak tilas itu merupakan tradisi TNI ketika mengadakan pendidikan.

“Selain mengambil semangat tak pernah surut dari perjuangan Jenderal Soedirman, napak tilas ini juga untuk membangkitkan nilai cinta Tanah Air dan bangsa Indonesia serta sekaligus menanamkan artinya nilai sejarah dari para pendiri negara. Napak tilas dengan menyusuri rute gerilya Jenderal Soedirman juga untuk menanamkan penghayatan serta mewariskan nilai-nilai perjuangan Panglima Besar Soedirman. Tradisi napak tilas ini ditanamkan kepada generasi baru di TNI,” ujar Herianto.

Dikatakan pula, latihan dikuti oleh 185 (134 pria dan 51 wanita) Siswa Dikmapa PK TNI Khusus Tenaga kesehatan. Mereka merupakan lulusan perguruan tinggi dengan Prodi Kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat kesehatan, kesehatan lingkungan, radiolog, dan prodi kesehatan lain) yang menempuh pendidikan pertama perwira selama tujuh bulan.

“Napak Tilas ini dilaksanakan pada 16 hingga 19 September dan diawali dengan kegiatan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Semaki, Yogyakarta. Mereka lalu berkunjung ke Museum Sasmitaloka dan mendengarkan penjelasan sejarah Panglima Soedirman di Desa Kretek. Dari Kretek, para peserta mulai berjalan kaki menuju Desa Grogol untuk mengikuti acara penyerahan tandu dari Bupati Bantul kepada para siswa, yang kemudian dilanjutkan perjalanan dan hari pertama berakhir di Desa Karang Tengah, dengan jarak tempuh 10,7 km,” kata mantan Kasgartap I/Jakarta itu.

Jarak napak tilas keseluruhan, Herianto menjelaskan, adalah 62,6 km dan diakhiri dengan bakti sosial serta karya bakti berupa pengobatan massal untuk masyarakat, penyuluhan bahaya narkoba, ceramah kesehatan gigi untuk SD dan TK, serta pembagian sembako. Karya bakti yang dilaksanakan adalah merenovasi rumah masyarakat tidak mampu, pembersihan, dan pengecatan fasilitas ibadah.



Sumber: Suara Pembaruan