Jaga Inflasi, Bank Indonesia Yogyakarta Pelopori Sistem Irigasi Drip

Jaga Inflasi, Bank Indonesia Yogyakarta Pelopori Sistem Irigasi Drip
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersama Bupati Sleman Sri Purnomo Panen Perdana demplot cabai dengan metode irigasi drip dan Pupuk Hayati, di Dusun Pondok Wonolelo, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Minggu (21/9/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani )
Fuska Sani Evani / FMB Senin, 23 September 2019 | 10:17 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) DIY, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman bekerja sama dengan Fakultas Pertanian UGM menerapkan metode irigasi drip atau tetes dalam penanaman cabai. Metode ini dinilai mampu menghemat air hingga 50 persen.

Salah satu tempat yang menjadi lahan percontohan atau demonstrasi plot (demplot) penerapan metode tersebut adalah di Dusun Pondok Wonolelo, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman.

Irigasi drip ini dianggap menguntungkan bagi petani, khususnya sebagai solusi mengatasi permasalahan kekurangan pasokan air di musim kemarau.

Kepala Perwakilan BI DIY Hilma Tisnawan mengatakan dalam rangka melaksanakan salah satu kebijakan BI, yaitu stabilitas moneter melalui peningkatan kapasitas ekonomi pelaku UMKM dan mengurangi inflasi pada komoditas volalite food (dari sisi pasokan), Kantor Perwakilan BI DIY melaksanakan program pengembangan klaster cabai di Kecamatan Ngemplak.

“Program pendampingan dilaksanakan secara multiyears dan menyeluruh meliputi pendampingan peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan, akses pemasaran dan hilirisasi,” kata dia.

Bersamaaan dengan panen perdana demplot cabai, BI juga menyerahkan Program Sosial Bank Indonesia [PBSI] berupa peletakan batu pertama pembangunan embung, serah terima Balai Lelang, serta launching web manajemen pasar lelang.

"Berdasar riset ditemukan fakta bahwa volatilitas harga cabai dipengaruhi oleh kesenjangan informasi. Antarpetani tidak memiliki informasi yang lengkap sehingga pola tanam sering berbenturan, dan berimbas harga turun karena panen dilakukan bersamaan," papar Kepala BI DIY, Hilman Tisnawan, di sela acara kunjungan kerja Gubernur BI di Desa Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Minggu (22/9).

Hilma Tisnawan melanjutkan, di lokasi tersebut, jika musim kemarau petani hanya mengandalkan pengairan dari tangki air yang dibeli.

Selain itu, keuntungan lainnya adalah meningkatnya pertumbuhan tanaman dan hasil, hal tersebut dikarenakan perubahan kelembaban tanah yang signifikan. “Karena tanahnya basah terus, jadi hasil panen berkualitas, dengan teknologi ini juga bisa panen 25-30 kali,” ucap dia.

Dalam kurun tiga tahun terakhir, komoditas cabe memberikan andil paling besar terhadap inflasi di DIY. Padahal, DIY memiliki sentra produksi cabai yakni di Kabupaten Sleman yang tersebar pada enam wilayah kecamatan.

Sebagai upaya mengurangi tekanan inflasi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY mengadakan program pengembangan klaster cabe di Kecamatan Ngemplak, Sleman. Program ini menyasar dua kelompok tani di Dusun Pondok 1 dan Pondok 2, Desa Widodomartani, Ngemplak. Pendampingan dilakukan secara multiyears pada periode 2017-2019, dan menyeluruh.

Dari hasil identifikasi timnya di lapangan, tantangan lain yang dihadapi petani adalah sistem budidaya yang masih konvensional, serangan hama pathek, kekurangan pasokan air, dan rendahnya daya tawar petani. Mengatasi berbagai kendala itu, BI memfasilitasi demplot seluas 7 hektare. Teknologi yang diterapkan antara lain pengendalian hama terpadu, pembenihan cabe dan penggunaan pupuk ramah lingkungan, serta irigasi drip dan penerapan pupuk hayati.

Selain itu dibangun pula screen house penangkaran benih, laboratorium bacillus, dan alat mesin percontohan. "Hasil pembelajaran di demplot ini diharapkan dapat direplikasi di seluruh lahan anggota kelompok tani, supaya produksi cabe bisa meningkat secara kuantitas mau pun kualitas," terangnya.

Dikatakan, BI juga berencana membangun embung seluas 645 meter kubik yang diperkirakan mampu mengairi 53 hektare lahan cabai.

Bupati Sri Purnomo menyambut baik dibangunnya embung di Dusun Pondok 1 Wonolelo, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak tersebut. Ia berharap kehadiran embung tersebut dapat memberikan semangat baru kepada para petani. Tentu guna mempermudah para petani untuk meningkatkan produksinya.

Sementara Gubernur BI, Perry Warjiyo mengungkapnya bahwa Bank BI selalu terus berupaya untuk menjaga kestabilan ekonomi Indonesia, yakni salah satunya dengan peningkatan kapasitas ekonomi pelaku UMKM dan mengurangi tekanan inflasi pada produk komuditas bahan pokok, dalam hal ini cabai.

“Cabai adalah produk komoditas bahan pokok, selain itu harga cabai masih lumayan bagus, yakni kisaran 35 ribu, dan jika panen besar 15 ribu, maka dipilihlah cabai Program Pengembangan Klaster ini di Dusun Pondok 1 Wonolelo ini,” katanya.

Ia berharap, Embung yang dibangun dengan luasan sekitar 700 meter persegi yang merupakan Program Sosial BI tersebut, dapat membantu meningkatkan produktivitas warga, karena mampu mengairi lahan kurang lebih 50 hektar



Sumber: Suara Pembaruan