Asap Mengancam, Riau Tetapkan Status Darurat Pencemaran Udara

Asap Mengancam, Riau Tetapkan Status Darurat Pencemaran Udara
Gubernur Riau Syamsuar menetapkan status darurat pencemaran udara akibat kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). ( Foto: Beritasatu TV )
Aichi Halik / AHL Senin, 23 September 2019 | 19:47 WIB

Pekanbaru, Beritasatu.com - Gubernur Riau Syamsuar menetapkan status darurat pencemaran udara akibat kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Mulai hari ini kami menetapkan keadaan darurat pencemaran udara di Provinsi Riau yang berlaku mulai 23 September sampai 30 September," ujar Syamsuar di kantornya, Kota Pekanbaru, Senin (23/9/2019).

Menurut Syamsuar, periode status darurat pencemaran akan sangat ditentukan oleh perkembangan kondisi kabut asap.

"Sambil kita menunggu perkembangan, mudah-mudahan ada perubahan hujan segera turun. Seandainya pencemaran ini berlanjut kita akan perpanjang (status darurat)," kata Syamsuar.

Menurut Syamsuar, Pemprov Riau segera menyiapkan tempat untuk evakuasi bagi warga yang rentan terkena dampak asap akibat pencemaran udara. Misalnya untuk anak-anak, termasuk ibu-ibu hamil dan orangtua yang asma akan dirujuk ke rumah sakit.

"Mulai hari ini kami persiapkan tempat evakuasi untuk masyarakat kita yang rawan terhadap kabut asap seperti anak-anak, ibu hamil, dan orangtua," ucap Syamsuar.

Kondisi saat ini, kabut asap pekat membuat jarak pandang di Pekanbaru hanya 400 meter. Pada alat pemantau polutan BMKG menunjukkan angka pencemaran partikel PM10 di udara sejak Minggu malam hingga Senin pagi berkisar 500 hingga 700 atau berbahaya.

Data BMKG Pekanbaru, pantauan satelit terra aqua menunjukkan ada 1.591 titik panas yang jadi indikasi karhutla di Sumatera pada Senin (23/9/2019) pukul 06.00 WIB. Daerah paling banyak yakni di Provinsi Sumsel 675 titik, Jambi 505 titik dan Riau 256 titik panas.



Sumber: BeritaSatu TV