Pengalaman Hasto Berpidato di Bawah Jembatan Rel Kereta di Cirebon

Pengalaman Hasto Berpidato di Bawah Jembatan Rel Kereta di Cirebon
Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto saat kunjungan kerja di Cirebon, Jawa Barat, Sabtu, 28 September 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Sabtu, 28 September 2019 | 15:58 WIB

Cirebon, Beritasatu.com - Di tengah suasana politik yang panas, khususnya di Ibu Kota Jakarta, akibat isu politik, petinggi partai politik penguasa, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) justru memilih turun ke bawah, ke sebuah dusun di Kabupatrn Cirebon, Jawa Barat.

Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto memilih untuk melakukan larung sungai. Lokasinya adalah di bawah jembatan rel kereta Desa Ciledug Lor, Pamosongan, Cirebon.

Hasto berbaur dengan ratusan warga desa setempat yang hadir. Bersamanya hadir Ketua DPD PDIP Jawa Barat, Ono Surono dan para legislator dari PDIP. Hadir pula Bupati Cirebon Imron Rosyadi serta tokoh-tokoh adat dan masyarakat di lokasi pertemuan Singai Jangkelok dan Cisanggarung, Sabtu (28/9/2019).

Sesekali gerbong kereta meluncur kencang di jembatan rel dekat lokasi. Suara gesekan roda kereta dan rel menderu kencang bersama klakson kereta yang dibunyikan masinis.

"Pak Jokowi saja belum tentu pernah berbicara di bawah jembatab rel kereta api sepertinini," ujar Hasto yang disambut tawa masyarakat.

Hasto mengatakan, dirinya bersedia hadir di acara larung sungai karena meyakini bahwa politik itu sejatinya adalah menyatu dengan kehidupan rakyat.

"Daripada ikut pusing di Jakarta, padahal pemilu sudah selesai, ada yang tak puas dan menyampailan secara anarkistis, kami memilih jalan yang dimulai Bung Karno dan dilanjutkan Ibu Megawati serta Pak Jokowi. Kami selalu bersama rakyat. Siapa yang selalu bersama rakyat, maka dia akan selamat," kata Hasto.

Acara larung itu dilakukan dengan sederhana. Masing-maing orang membawa sebuah wadah berisi air bersih yang ditumpahkan ke arah aliran sungai yang sedang mengering itu. Prosesi itu dilakukan sambil memanjatkan doa-doa.

Menurut Hasto, air yang membuat kehidupan di seluruh alam raya, sehingga harus dirawat dan dijaga. Kegiatan larung itu juga mengandung pesan untuk merawat seluruh sungai dan mata air kita.

"Di balik ritual adat ini pada dasarnya adalah hasrat sedalam-dalamnya dari kita untuk merawat mata air kehidupan kita," kata Hasto yang diamini para warga.

Dikatakan pula, apa yang dilakukan oleh warga dusun tersebut sejalan dengan Pancasila sebagai jalan kehidupan berbangsa  dan bernegara. Sila Ketuhanan yang Maha Esa bukan hanya menekankan ketuhanan yang berbudi pekerti luhur tanpa keegoisan agama, tetapi juga nilai-nilai bahwa kita harus menjaga  ciptaan Tuhan dan memperindah lingkungan.

"Dalam dusun seperti ini bisa kita saksikan masyarakat hidup rukun, apa adanya, dan mampu bersyukur memanjatkan karunia bersama. Ini berneda dengan di Jakarta. Mereka menggunakan atas nama rakyat, namun kini muncul demo ditunggangi, yang ujungnya anarkistis," kata Hasto.



Sumber: Suara Pembaruan