Dukung Nawacita, Korindo Gencarkan Pembangunan di Boven Digoel

Dukung Nawacita, Korindo Gencarkan Pembangunan di Boven Digoel
Kabupaten Boven Digoel Papua ( Foto: Istimewa )
Unggul Wirawan / WIR Sabtu, 28 September 2019 | 20:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Korindo Group, perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit, berkomitmen mendukung pengimplementasian visi Nawacita atau membangun Indonesia dari pinggiran. Upaya ini dilakukan dengan menggencarkan pembangunan infrastruktur yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar kawasan konsesi kelapa sawitnya.

Salah satunya adalah di Kabupaten Boven Digoel, Papua, yang merupakan salah satu daerah paling timur dan berbatasan langsung dengan negara tetangga yakni Papua Nugini.

Lewat salah satu anak usaha yang bergerak di industri kelapa sawit, PT Tunas Sawa Erma (TSE), Korindo telah memberikan kontribusi signifikan dalam mewujudkan pembangunan infrastruktur dan kapasitas masyarakat di kabupaten berpopulasi sekitar 73.000 jiwa ini.

Deputy General Manager TSE Daniel Sim Ayomi mengatakan, dalam memberikan kontribusinya kepada masyarakat pihaknya berpedoman pada lima pilar program utama, yaitu pendidikan/sosial budaya, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan infrastruktur.

"Pada semua wilayah operasi kami, hal pertama yang kami prioritaskan adalah, kami harus mampu give back kepada masyarakat dan lingkungan 5 pilar tersebut menjadi pedoman, baik di dalam kami melakukan kegiatan kontribusi sosial perusahaan, maupun pada seluruh siklus kerja kami," ujarnya saat ditemui Antara belum lama ini.

Dari sisi infrastruktur, Korindo telah membangun sejumlah sarana sosial diantaranya seperti tempat ibadah, sekolah, klinik, dan jembatan. Bahkan, Klinik Asiki, klinik yang Korindo bangun di Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Papua, berhasil dinobatkan sebagai Klinik Pratama Terbaik tingkat Nasional pada Agustus 2019 lalu. Ini melengkapi predikat Best Performance Klinik Pratama se-Papua dan Papua Barat yang dianugerahkan oleh BPJS Kesehatan pada 2017 lalu.

Klinik ini berperan penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekitar. Pasalnya, sebelum Klinik Asiki hadir, masyarakat mesti menempuh perjalanan hingga 12 jam untuk mengakses fasilitas kesehatan terdekat, yang berada di Merauke.

Korindo pun berupaya menggerakkan roda perekonomian bagi masyarakat dengan menyediakan pengembangan keterampilan dan kemampuan, mulai dari bercocok tanam, beternak, hingga mencetak batu bata. Hal ini, lanjut Ayomi, merupakan upaya Korindo agar masyarakat bisa membuka usaha secara mandiri, dan pada akhirnya membuka kesempatan kerja bagi anggota marga, dan juga untuk meningkatkan ekonomi keluarga masyarakat setempat.

"Jadi tidak hanya sekedar bantuan-bantuan yang habis dalam sekali-dua kali pakai. Kami pun ingin warga mandiri secara ekonomi," tambahnya.

Kualitas SDM

Tak hanya sampai disitu, Korindo juga berupaya memajukan kualitas sumber daya manusia, terutama generasi penerus bangsa Indonesia dengan mendukung program-program pemerintah di bidang pendidikan. Dukungan itu tercermin dari program praktik kerja industri (PKL) oleh perusahaan bagi siswa siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di area operasional perusahaan.

Nantinya, para siswa akan ditempatkan di beberapa pos Korindo sesuai dengan latar belakang pendidikannya, seperti Jurusan Administrasi Perkantoran, Agribisnis dan lainnya.

Dalam upayanya untuk memajukan pendidikan di daerah pedalaman, Korindo juga memberikan beasiswa kepada para siswa.. Beasiswa diberikan kepada para siswa untuk meneruskan studinya di berbagai jenjang, mulai dari SD, SMP, SMA, sampai Perguruan Tinggi.

Di sisi lain, Korindo pun memberikan bantuan alat tulis serta mainan anak, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas sekolah dan menambah sarana bermain untuk anak-anak di tingkat PAUD.

Justinus Gambenop, salah satu pemilik hak ulayat di Distrik Subur yang merupakan kawasan konsesi Korindo Group, menyatakan kehadiran Korindo di wilayahnya diibaratkan bagai ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Pasalnya, sebelum Korindo beroperasi di wilayah yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini ini, wilayah Boven Digoel sangat tertinggal dalam hal pembangunan infrastruktur fisik dan ekonomi.

”Yang paling terasa adalah dibukanya begitu banyak lapangan kerja dan pembangunan begitu banyak sarana umum seperti klinik, sekolah, tempat ibadah, dan sebagainya,” ujar Justinus.



Sumber: Suara Pembaruan