Karhutla di Jambi, Lahan Tujuh Perusahaan Disegel

Karhutla di Jambi, Lahan Tujuh Perusahaan Disegel
Gubernur Jambi, Fachrori Umar (empat dari kanan) didampingi Bupati Muarojambi, Masnah Busro (empat dari kiri) memadamkan kebakaran lahan gambut di areal perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Bara Eka Prima (BEP), Desa Puding, Kecamatan Kumpeh Ilir, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Jumat (20/9). ( Foto: Beritasatu Photo / Radesman Saragih )
Radesman Saragih / FMB Minggu, 29 September 2019 | 19:41 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Penegakan hukum kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi terus ditingkatkan. Penegakan hukum tersebut ditandai dengan penyegelan lahan tujuh perusahaan yang terkait karhutla. Bahkan izin perusahaan yang terlibat kasus karhutla di Jambi bakal ada yang segera dicabut.

Penyegelan lahan tujuh perusahaan yang terkait karhutla di Jambi dilakukan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) selama dua hari, Sabtu–Minggu (28 – 29/9/2019). Penyegelan lahan perusahaan itu dilakukan langsung oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Penegakan Hukum (Gakum) Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), Rasio Ridho.

“Selama dua hari ini, Sabtu–Minggu, kami menyegel lahan tujuh perusahaan hutan tanaman industri (HTI) dan hak pengusahaan hutan (HPH) yang terkait kasus karhutla di Jambi. Kami juga merekomendasikan pencabutan izin perusahaan yang lahannya disegel tersebut karena karhutla di areal perusahaan sudah terjadi lebih satu kali,” kata Dirjen Gakum KLHK, Rasio Ridho seusai menyegel areal perusahaan PT KU di Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, Minggu (29/9/2019).

Kebakaran Hutan, 228 Jadi Tersangka

Menurut Rasio Ridho, areal perusahaan HTI dan HPH yang disegel di Provinsi Jambi, PT RKK, PT BEP dan PT LKU, PT MAS, PT ABT, PT PDIW dan PT PB. Lahan yang sudah dua kali terbakar, yakni milik PT RKK. Areal perusahaan yang terbakar tersebut sebagian besar di Kabupaten Muarojambi. Kebakaran lahan PT RKK di Desa Puding, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muarojambi tahun ini mencapai 1.200 ha. Sedangkan lahan perusahaan tersebut yang terbakar tahun 2015 sekitar 600 ha.

“Sudah dua kali lahan PT RKK terbakar. Ketika lahan perusahaan itu terbakar tahun 2015, mereka sudah didenda sekitar Rp 192 miliar. Kali ini perusahaan tersebut tak cukup lagi hanya didenda, tetapi izinnya kami rekomendasikan segera dicabut,” katanya.

Secara nasional, Rasio Ridho, KLKH sudah menyegel areal 62 perusahaan HTI, HPH dan perkebunan kelapa sawit. Sebanyak 20 perusahaan yang lahannya disegel milik perusahaan milik asing dengan total lahan terbakar sekitar 11.000 ha.

Jambi Masih Waspada Asap, Karhutla Belum Seluruhnya Padam

Sementara itu Kapolda Jambi, Irjen Pol Muchlis AS mengatakan, pihaknya sudah menetapkan dua perusahaan sebagai tersangka karhutla, yakni PT MAS dan PT BEP di Kabupaten Muarojambi. Kasus karhutla kedua perusahaan tersebut sudah masuk ke tahap penyidikan.

“Sedangkan perseorangan yang masih menjalani proses hukum terkait karhutla di Jambi sebanyak 40 orang. Para tersangka tersebut diproses di Polda Jambi dan beberapa kepolisian sektor (polres),”katanya.

29 Perusahaan
Sementara itu, Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Jambi, Rudy Syaf mengatakan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi berada di areal 29 perusahaan, yaitu perusahaan perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri (HTI) dan hak pengusahaan hutan (HPH).

Luas karhutla di Provinsi Jambi hingga akhir September ini mencapai 47.510 hektare (ha). Karhutla paling banyak di areal HTI, yakni sekitar 10.194 ha dan di arealHPH sekitar 8.619 ha. Kemudian kebakaran di areal perkebunan kelapa sawit sekitar 8.185 ha, hutan lindung (6.712 ha), restorasi ekosistem (6.648 ha), taman nasional (3.395 ha), lahan masyarakat (2.956 ha) dan taman hutan raya (801 ha).

“Hutan dan lahan gambut yang terbakar di Jambi juga cukup luas. Hutan dan lahan gambut dengan kedalaman empat meter yang terbakar di daerah ini hingga akhir September mencapai 14.697 ha atau sekitar 49 persem dari sekitar 29.701 ha hutan dan lahan gambut berkedalaman empat meter di Jambi.

Pembasahan Lahan Gambut Prioritas Utama Cegah Karhutla

Sementara itu Kepala Divisi Kajian dan Penguatan Informasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jambi, Dwi Nanto mengatakan, luas karhutla di Jambi Januari – September 2019 mencapai 23.000 ha. Jumlah titik api di daerah itu dalam kurun waktu yang sama mencapai 3.536 titik.

Titik api paling banyak muncul di Jambi terjadi selama Juli – September, lanjut Dwi Nanto, mencapai 3.000 titik. Sedangkan warga Kota Jambi yang terpapar asap dan terserang infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) mencapai 16.000 orang.

Secara terpisah, Pejabat Kepala Desa Puding, Iwa Agustiwa, api yang belum padam di lahan gambut di sekitar desa mereka hingga Minggu (29/9/2019) berada di lahan gambut milik perusahaan PT Pesona, Desa Puding, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muarojambi. Api di lahan gambut perusahaaan tersebut belum padam total karena hingga Minggu, hanya hujan gerimis yang turun di desa itu.

Kepala Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Addi Setiadi di Jambi, Minggu (29/9/2019) mengatakan, hujan lebat yang kembali mengguyur Jambi, Sabtu (28/9/2019) malam dan Minggu (29/9/2019) siang membuat karhutla di daerah itu hampir padam total.

Berdasarkan pantauan satelit Terra dan Aqua, titik api di Provinsi Jambi tidak ada lagi terpantau Minggu (29/9/2019) malam. Sedangkan titik api secara mingguan di Jambi juga turun drastis.

“Titik api di Jambi sepekan terakhir, 23–29 September 2019 hanya 145 titik. Titik api tersebut berkurang drastis dibandingkan pekan sebelumnya, 16–22 September 2019 sekitar 1.297 titik,” ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan