Komplotan Oknum Dosen IPB Berencana Rusuh Jadi 10 Orang

Komplotan Oknum Dosen IPB Berencana Rusuh Jadi 10 Orang
Kediaman terduga AB yang diamankan polisi terkait dengan praktik penyimpanan bahan peledak di Pakuan Regency, Bogor, Minggu (29/9/2019). (Foto: BeritaSatu Photo / Vento Saudale)
Farouk Arnaz / YUD Selasa, 1 Oktober 2019 | 16:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komplotan oknum dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basith (44) yang dibekuk karena ingin membuat Jakarta rusuh seperti pada tahun 1998 dengan membakar sejumlah ruko, bertambah.

Saat ini, termasuk Basith, ada sekitar 10 orang yang dibekuk termasuk SS yang merupakan pensiunan bintang dua. Menurut Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo status mereka sudah tersangka.

Baca juga: Polisi: Oknum Dosen IPB Berperan Simpan Molotov

“Kasus AB ini masih berkembang. Dia merekrut dua orang atas nama S dan OS. S perannya mencari orang yang memiliki kemampuan untuk membuat bom," kata Dedi di Mabes Polri, Selasa (1/10/2019).

OS berperan menerima dana yang rencananya akan digunakan oleh eksekutor untuk melakukan provokasi dan kerusuhan dalam “Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI” Sabtu (28/9/2019) lalu.

Baca juga: Dosen Diduga Terlibat Teror, IPB: Kami Hormati Hukum

“S sudah merekrut empat orang atas nama JAF, AL, NAD dan SAM. Mereka-mereka ini memiliki kualifikasi membuat bom sekaligus merangkap sebagai eksekutor," imbuhnya.

Lalu ada YF, AL, dan FEB. Nama terakhir menerima perintah untuk membeli bahan bom. Polisi masih mencari tahu apa keuntungan mereka jika Jakarta rusuh dan Jokowi gagal dilantik.

Baca juga: Skenario Rusuh Ala 98 Terbongkar, Status Pelaku Akan Ditentukan

Seperti diberitakan mereka disangka pidana membuat, menguasai, membawa, menyimpan, mengangkut, menyerahkan dan atau berusaha menyerahkan bahan peledak, sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat 12/1951.

Para pelaku ditangkap di sejumlah tempat termasuk di Jl Maulana Hasanudin, Cipondoh, Tangerang Kota pada Sabtu dini hari (28/9/2019). Dari komplotan ini disita 29 bom molotov dan granat nanas.



Sumber: BeritaSatu.com