Forum FKIP se-Indonesia Matangkan Skema PPG Prajabatan Mandiri

Forum FKIP se-Indonesia Matangkan Skema PPG Prajabatan Mandiri
Ilustrasi dosen sedang mengajar. ( Foto: istimewa )
Maria Fatima Bona / WBP Sabtu, 5 Oktober 2019 | 12:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Forum Komunikasi Pimpinan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Negeri se-Indonesia, Sofendi mengatakan, untuk menjadi seorang guru profesional yag memenuhi kualifikasi, diperlukan sertifikat pendidikan profesi guru (PPG). Untuk itu, Forum FKIP se-Indonesia mengadakan rapat kerja membahas permasalahan dunia pendidikan, termasuk PPG. Pasalnya, dalam waktu dekat akan dilaksanakan PPG Prajabatan mandiri agar dalam penerimaan seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS).

“Ini (PPG) menjadi salah satu fokus terkait pendidikan profesi guru karena FKIP mewadahi seluruh LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) se-Indonesia. Bisa saja selama ini ada masalah di daerah tidak muncul di Jakarta atau sebaliknya. Jadi, melalui forum ini mencoba mencari solusi dan dijadikan semacam rekomendasi ke Kemristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi)," kata Sofendi pada pertemuan puncak Rapat Kerja Pimpinan FKIP se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (4/10/2019).

Sofendi menambahkan, skema PPG prajabatan mandiri yang sedang digodok tidak jauh berbeda dengan penyelenggara Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang sepenuhnya ditentukan Kemristekdikti. Sistem seleksi hingga kuota maupun proses seleksi tidak dapat ditentukan oleh perguruan tinggi atau FKIP, melainkan pemerintah. “Jadi PPG prajabatan mandiri ini terpusat dari Kemristekdikti,” terang dosen program studi (prodi) bahasa Inggris FKIP Universitas Sriwijaya ini.

Sofendi menyebutkan, penempatan peserta PPG prajabatan mandiri tergantung kesiapan perguruan tinggi. Sedangkan kuota tahap pertama, belum dibahas terperinci.

Adapun hal yang dipersiapkan menuju PPG prajabatan mandiri yakni, kurikulum, sumber daya manusi a(SDM) yakni dosen dan karyawan, hingga fasilitas.

Pada kesempatan sama, rektor Universitas Terbuka (UT) Ojat Darojat mengatakan, inovasi pembelajaran di kelas sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, melalui Forum Komunikasi FKIP se-Indonesia dapat melahirkan dialog intelektual dalam rangka membantu program pemerintah. 

Dia menuturkan, saat ini ada tren di mana calon mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi sangat terbiasa dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam penggunaan perangkat online seperti gawai. Hal tersebut merupakan cara baru dalam pembelajaran. "Cara lama seperti perkuliahan di depan kelas harus digeser menciptakan inovasi berbasis daring," ujar Ojat Darojat.



Sumber: Suara Pembaruan