Fenomena "Mama Muda" Berdampak Positif bagi Pendidikan Anak

Fenomena
Sejumlah orang tua menyaksikan putra-putri mereka mengikuti proses belajar di hari pertama sekolah di SD Muhammadiyah 5 Jakarta, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin, 15 Juli 2019. ( Foto: ANTARA FOTO / Aprillio Akbar )
Carlos Roy Fajarta / FMB Minggu, 6 Oktober 2019 | 15:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di tengah-tengah kemajuan teknologi informasi, fenomena kelompok "Mama Muda" saat ini menjadi sebuah tren di kalangan ibu-ibu rumah tangga modern di usia 20-40an di sejumlah kota besar di Indonesia. 

Keberadaan "Mama Muda" yang ada saat ini tidak terlepas dari kondisi agen, struktur sosial, dan budaya yang menciptakan solidaritas di tengah komunitas mereka dalam memanfaatkan waktu luang di saat menunggu anak mereka yang masih duduk di bangku PAUD hingga sekolah dasar.

Keberadaan "Mama Muda" dalam melaksanakan berbagai kegiatan bersama-sama di dalam kelompoknya dengan konsep saling mendukung demi kemajuan pendidikan anak inilah yang mendorong praktisi komunikasi pendidikan Rewindinar melakukan penelitian konvergensi simbolik dalam proses morfogenesis dalam disertasinya untuk Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta.

"Eksistensi ibu-ibu di masa modern yang selalu eksis saat mengantar jemput anak-anak mereka dalam berbagai kelompok sosial yang mereka bangun menjadi sebuah budaya yang mudah kita temukan saat ini. Selain solid dalam kelompoknya, mereka juga saling berbagi pengalaman dalam mendidik anak dan mengelola keluarga," ujar Rewindinar, Sabtu (5/10/2019).

Ia menyebutkan dalam kelompok tersebut para ibu-ibu masa kini berinteraksi tidak hanya dalam kepentingan mengantar jemput anak-anak mereka saja tetapi juga terjadi perubahan kultur dalam ketertarikan mereka akan olahraga, kecantikan, dunia fashion serta dalam menerapkan pola didik pada anak mereka dengan baik.

"Penelitian ini saya lakukan selama empat tahun terakhir sejak 2015 lalu dengan menemui dan wawancara terhadap mama muda yang mengantar jemput anak mereka di sejumlah sekolah dasar dan taman kanak-kanak di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Semarang," tambah wanita yang akrab dipanggil Rhere itu.

Sementara itu, Ketua Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Pinckey Triputra menyebutkan konsep morfogenesis yang digunakan dalam fenomena mama muda pertama kali diperkenalkan oleh Margareth Archer.

"Mama muda ini memang sedang menjadi tren di kota besar. Kelompok ini mewakili perubahan gejala sosial. Dalam contoh kasus lainnya tidak hanya fokus pada mama muda tetapi juga terjadi, misalkan dalam pengajian ibu-ibu rumah tangga," kata Pinckey

Ia menyebutkan dalam ilmu komunikasi saat ini WAG atau yang akrab disebut WhatsApp Grup menjadi salah satu agen perubahan karena kemajuan teknologi informasi.

"WA Grup juga menjadi salah satu bagian dari proses untuk menuju satu perubahan dalam bentuk komunikasi teks. Pengalaman yang di-share satu sama lain, sehingga mendorong perubahan kultur bagi mereka yang ada di dalam grup tersebut," jelasnya. 



Sumber: Suara Pembaruan