TALIS Bisa Dorong Rasio Elektrifikasi Papua

TALIS Bisa Dorong Rasio Elektrifikasi Papua
Tabung Listrik (TALIS) hasil temuan dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia, disiapkan menjadi salah satu solusi peningkatan rasio elektrifikasi di Provinsi Papua. ( Foto: istimewa )
Fajar Widhiyanto / FW Selasa, 8 Oktober 2019 | 00:33 WIB

Beragam strategi disiapkan PT PLN (Persero) untuk meningkatkan rasio elektrifikasi (RE) khususnya di Provinsi Papua. Berbeda dengan Papua Barat yang rasio elektrifikasinya sudah lebih tinggi, dibutuhkan upaya ekstra untuk mengalirkan listrik ke seluruh warga Papua,

Agar wilayah Papua bisa mengejar ketertinggalan dari provinsi lainnya dalam hal tingkat elektrifikasi, diperlukan program percepatan penerangan di wilayah tersebut. “Untuk menjadikan tahun 2020 Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Papua menjadi 100%, PT PLN telah merencanakan lebih dari 899 desa dengan jumlah rumah yang akan dilistriki sekitar 63.930, di Papua dan Papua Barat,” demikian dikatakan Executive Vice President Pengembangan Regional Maluku-Papua PT PLN, Eman Prijono Wasito Adi dalam pernyataannya Senin (7/10).

Upaya meningkatkan rasio elektrifikasi di Papua, diakui Eman masih terhambat oleh masalah geografis berupa lokasi desa yang berjauhan dan minimnya jalur transportasi. Agar bisa mencapai rasio elektrifikasi yang lebih tinggi, PLN harus menjalin kerja sama dengan instansi lain seperti kementerian terkait dan pemerintah daerah. Termasuk memanfaatkan program tanggung jawab sosial yang dilansir sejumlah perusahaan.

Sebut saja kerja sama perseroan dengan Universitas Indonesia, yang menyiapkan program penggunaan aliran listrik melalui tabung listrik (TALIS). Tabung listrik ini sama halnya dengan alat penyimpanan energi (energy storage) yang juga berfungsi seperti power bank, dan bisa digunakan untuk mengaliri listrik untuk rumah tangga.

TALIS  berbobot sekitar 5 kilogram, bisa menampung daya listrik sebesar 300 watt hour (Wh) hingga 1.000 Wh. Penggunaannya pun cukup mudah, pemilik hanya tinggal memilih sistem AC atau DC dan tinggal dihubungkan dengan kabel lampu.

Jika daya listriknya sudah habis, pemilik bisa men-chargenya di PLTS, mikrohidro, pikkohidro, PLTA ataupun pembangkit listrik biomassa. “TALIS lebih hemat dan mudah digunakan,” kata Eman. Dengan menggunakan TALIS, masyarakat bisa berhemat dalam pemasangan jaringan listrik karena biaya pembelian dan pemasangan listrik dengan menggunakan TALIS hanya sekitar Rp 3,5 juta. Sedangkan jika menggunakan jalur konvensional, tarifnya biasa lebih dari Rp 4 juta.

Dikatakan Eman jika seluruh Papua terang, maka program Papua Terang di tahun 2018 sudah menjadikan Indonesia Terang secara keseluruhan.

Hingga saat ini di Papua dan Papua Barat sudah ada 111 sistem kelistrikan yang terdiri dari 16 sistem kelistrikan besar (di atas 2 MW) dan 95 sistem kelistrikan kecil untuk yang kapasitasnya di bawah 2 MW. Dengan sistem ini, sudah terdapat daya mampu sebanyak 327,65 MW di Papua dan Papua Barat, sementara beban puncaknya hanya sekitar 280,88 MW.

Hingga Agustus 2019, rasio elektrifikasi di kedua provinsi mencapai 57,93%. Namun untuk provinsi Papua baru sebesar 48,3%, dan Papua Barat sudah jauh lebih tinggi di 91,50%.

PLN memproyeksikan pada tahun 2020 Rasio Elektrifikasi di Provinsi Papua dan Papua Barat bisa mencapai 99,9%. Sementara Rasio Elektrifikasi secara nasional per September 2019 mencapai 98,86%.

 



Sumber: Majalah Investor