Batik Analyzer, Aplikasi Membedakan Printing dan Canting

Batik Analyzer, Aplikasi Membedakan Printing dan Canting
Peragaan busana batik memperingati Hari Batik Nasional digelar Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Kementerian Perindustrian, di Jogja Expo Center (JEC), Rabu, 9 Oktober 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / JEM Kamis, 10 Oktober 2019 | 15:07 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Keberadaan batik Indonesia yang sudah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya tak benda dari UNESCO, harus disikapi sebagai daya ungkit perkembangan industri batik. Termasuk penggunaan teknologi informasi dalam khasanah perbatikan. Pembuatan batik pun juga tidak terbatas dengan menggunakan canting atau biasa disebut batik tulis.

Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), Kementerian Perindustrian, menggelar Pameran Litbang Kementerian Perindustrian bertema 'Lestari Tradisi melalui Inovasi' pada Rabu-Minggu (9-13/10/2019) di Jogja Expo Center (JEC). Pameran ini menampilkan inovasi teknologi yang mendukung industri batik dari unit-unit litbang di bawah BPPI dan perusahaan-perusahaan mitra BPPI.

Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Titik Purwati Widowati mengatakan, teknologi yang dipamerkan adalah Batik Analyzer yakni suatu alat dengan teknologi artificial intelligence yang dapat mendeteksi keaslian kain bermotif batik.

“Inovasi ini berawal dari kesulitan masyarakat membedakan kain batik dan tiruan yang beredar di pasaran, khususnya membanjirnya produk impor tiruan batik atau printing dengan harga yang sangat murah,” ujarnya.

Dengan Batik Analyzer, masyarakat umum akan mudah membedakan mana batik dan mana tekstil dengan aplikasi yang bisa diunduh. Nantinya, pengguna telepon pintar bisa memanfaatkan Batik Analyzer yang saat ini sudah 75% siap diluncurkan.
Selain itu juga menampilkan inovasi zat warna alam untuk pewarna batik Baristand Industri Padang. Zat warna alam tersebut diekstrak dari tanaman gambir yang selanjutnya diolah menjadi bahan pewarna batik.

Balai Besar Tekstil pun ikut memamerkan hasil litbangnya yaitu alat tenun bukan mesin (ATBM) Dobby Elektronik. Pengembangan desain struktur kain tenun untuk bahan baku kain batik menjadi lebih mudah dan praktis dengan menggunakan ATBM Dobby Elektronik hasil inovasi BBT.

Saat ini tengah dikembangkan versi terbarunya yakni perangkat dobby elektronik yang kompatibel dengan ATBM yang digunakan di IKM berbasis Internet of Things (IoT).

Melalui inovasi ini, proses desain motif dapat dikerjakan di mana saja, kemudian langsung terkoneksi ke operator ATBM dan dapat langsung ditenun tanpa harus membuat motif di papan paku dobby secara manual.

Sedangkan upaya pelestarian motif batik Nusantara sebagai kekayaan Indonesia dapat diimplementasikan pula ke dalam teknologi tekstil berbasis digital seperti Mesin Rajut Seamless dan Mesin Tenun Jacquard sehingga muncul kain tenun dan kain rajut dengan desain struktur bermotif batik.

Purwati Widowati mengatakan, untuk mempertahankan industri kerajinan dan batik pada masa yang akan datang, generasi milenial perlu dirangkul sebagai konsumen potensial produk kerajinan batik. Akan tetapi pendekatan yang dipakai harus berbeda dengan generasi sebelumnya. Guna merespons tantangan dan dinamika tersebut, langkah kolaboratif perlu dilakukan dengan melibatkan pemerintahan, asosiasi dan pelaku industri, hingga akademisi.

Sementara itu, Kepala Puslitbang Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronikia Kementerian Perindustrian, Soni Sulaksono mengatakan, teknologi yang berkembang pesat memberikan dampak ke semua sektor, tak terkecuali batik. Namun ia berharap tradisi batik bisa dijaga di sepanjang masa meski teknologi terus berubah. Apalagi Unesco telah menobatkan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Sehingga Indonesia memiliki keunggulan dalam warisan batik yang harus terus dipertahankan.

“Jangan sampai karena kemajuan teknologi kemudian tradisi (membatik) sampai hilang, inovasi diharapkan bisa menjaga batik dengan tidak menghilangkan nilainya budaya. Seperti melalui motif batik yang tersimpan banyak nilai,” katanya.

Ia mengatakan inovasi dalam hal batik harus mampu menjaga tradisi atau mengimbangi kemajuan zaman. Sehingga membatik harus lebih didekatkan generasi milenial agar inovasi yang dilakukan ke depannya bisa tetap sejalan dengan tradisi.

“Seperti nyanting butuh waktu lama, ini menjadi penting untuk didekatkan dengan generasi saat ini, yang mungkin mereka punya konsep baru. Sehingga lomba seperti kreasi batik itu perlu dilakukan dengan tetap ada canting dan malam, jadi tanpa menghilangkan definisi batik,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan