Aktivis Walhi Tewas, Polda Sumut Tetapkan Tiga Tersangka

Aktivis Walhi Tewas, Polda Sumut Tetapkan Tiga Tersangka
Golfrid Siregar (kedua kanan). ( Foto: Istimewa )
Arnold H Sianturi / JAS Kamis, 10 Oktober 2019 | 15:42 WIB

Medan, Beritasatu.com - Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) menetapkan tiga orang yang menjadi tersangka di balik kasus kematian aktivis Wahana Lingkungan Hidup Sumut, Golfrid Siregar, yang ditemukan tergeletak di kawasan underpass Titi Kuning Medan.

"Dua dari tiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka itu sudah ditahan. Namun, mereka bukan tersangka terkait kematian," ujar Kepala Sub Penerangan Masyarakat Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan di Markas Polda Sumut, Kamis (10/10/2019).

Nainggolan mengatakan, kedua tersangka itu adalah seorang tukang becak bermotor (betor) dan warga sekitar lokasi kejadian, berinisial K dan F. Mereka sebagai pelaku yang mengambil ponsel, laptop maupun barang berharga lainnya milik korban.

"Penetapan tersangka ini setelah penyidik melakukan pemeriksaan terhadap 12 orang atas kematian Golfrid Siregar. Mereka yang diperiksa itu meliputi keluarga Golfrid, sekuriti Rumah Sakit Umum (RSU) Mitra Sejati, tukang becak maupun warga setempat," katanya.

Dalam pengembangan penyelidikan itu, sambung Nainggolan, polisi juga mengamankan sejumlah Closed Circuit Television (CCTV) dari lokasi kejadian dan rumah sakit yang disebutkan. Ada tiga orang yang mengantarkan Golfrid Siregar saat tak sadarkan diri di lokasi kejadian.

"Kasus ini masih dalam pengembangan. Jumlah tersangka dipastikan bertambah. Kita juga menunggu hasil autopsi jenazah aktivis Walhi dari Rumah Sakit Bahayangkara Medan. Hasil autopsi akan mengungkap korban tewas karena kecelakaan atau akibat dibunuh," jelasnya.

Seperti diketahui, Golfrid pergi meninggalkan rumahnya setelah berpamitan kepada istrinya untuk mengirim sesuatu barang ke agen ekspedisi, Rabu (2/102019). Kemudian, Golfrid bertemu dengan orang di kawasan Marindal.

Setelah itu, keluarga korban tidak bisa menghubungi korban lagi. Kamis dini hari, Golfrid ditemukan terkapar di Simpang Pos Medan. Tempurung kepala korban mengalami luka parah. Korban dilarikan ke rumah sakit. Oleh pihak medis dilakukan operasi, Jumat (4/10/2019). Golfrid akhirnya mengembuskan napas terakhir, Minggu (6/10/2019).

Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Dana Prima Tarigan mengungkapkan, ada kejanggalan dalam kasus meninggalnya Golfrid. Kepala Golfrid mengalami luka serius diduga akibat benturan sebuah benda. Jika disebutkan karena kecelakaan, bagian tubuh Golfrid tidak memiliki luka berarti.

Indikasi lainnya, tewasnya Golfrid bukan karena kecelakaan karena barang yang dibawa saat mengendarai sepeda motor, seperti, laptop, cincin maupun uang, juga hilang. Sementara itu, sepeda motor yang dibawa hanya mengalami kerusakan kecil.

"Bila dilihat dari kondisi luka maupun barang-barang yang raib, Golfrid terindikasi menjadi korban kekerasan karena aktivitasnya yang menyuarakan masalah lingkungan dan HAM. Kita kurang meyakini jika korban kecelakaan lalu lintas. Kematian Golfrid tidak wajar," sebutnya.



Sumber: Suara Pembaruan