Polres Bengkulu Utara Ringkus Penjual Kulit Harimau Sumatera

Polres Bengkulu Utara Ringkus Penjual Kulit Harimau Sumatera
Harimau sumatera. ( Foto: Antara )
Usmin / FMB Jumat, 11 Oktober 2019 | 10:28 WIB

Bengkulu, Beritasatu.com - Anggota Polres dan BKSDA Bengkulu Utara, Bengkulu meringkus tiga orang warga Dusun Raja, yakni AL (60), AS (35) dan PR (23), karena diduga memburu dan menjual kulit harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Demikian disampaikan Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) Wilayah III Bengkulu-Sumatera Selatan (Sumsel), Zainudin, di Bengkulu, Kamis (10/10/2019).

"Tiga orang warga Dusun Reha, Bengkulu Utara, kita amankan, seorang di antaranya diduga merupakan pemburu harimau sumatera dan dua orang lagi diketahui sebagai penjual kulit satwa langka hasil buruan tersebut," ujarnya.

Penangkapan tiga warga yang diduga sebagai pemburu harimau Sumatera tersebut berawal dari informasi warga mencium bau bangkai dari salah satu penginapan di Kecamatan Ketahun, Bengkulu Utara, yang dijadikan tempat transaksi jual beli kulit raja hutan tersebut.

Informasi tersebut langsung disikapi petugas Polres dan BKSDA Bengkulu Utara, dengan mendatangi lokasi bau bangkai yang ternyata dijadikan tempat transaksi jual beli kulit harimau tersebut.

Di lokasi tersebut, anggota Polres dan BKSDA Bengkulu, berhasil mengamankan dua orang, yakni AL dan PR. Dari pengembangkan penyidikan polisi menangkap AS, terduga pemburu harimau sumatera jenis betina yang diperkirakan berusia dua tahun tersebut.

Dari para tersangka, petugas menyita selembar kulit harimau tanpa tulang belulang dan mengamankan satu unit senapan rakitan. Senpi rakitan ini diduga digunakan para tersangka dalam melakukan aksinya memburu harimau sumatera tersebut.

"Sekarang tersangka dan berikut barang buktinya sudah kita amankan di Mapolres Bengkulu Utara, untuk kepentingan proses hukum selanjutnya. Hasil penyidikan perkara ini akan kita kembangkan di lapangan guna membekuk jaringan pemburu harimau sumatera di daerah ini," kata Kapolres Bengkulu Utara, AKBP Arefaldi WN.

Para tersangka dalam kasus ini, dikenakan melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya (KSDAE) dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Sementara pemilik senjata api rakitan tanpa izin berpotensi dikenakan Undang-Undang Darurat Republik Indonesia tentang kepemilikan senjata ilegal dengan ancaman penjara hingga 12 tahun namun masih didalami petugas.